Peringatan Hari Pers Nasional dalam Suasana Lesu: Tantangan Media Arus Utama
Sumber Foto: Memorandum.co.id
Ruang Redaksi

Peringatan Hari Pers Nasional dalam Suasana Lesu: Tantangan Media Arus Utama

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini berlangsung dalam suasana yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak wartawan di berbagai daerah merayakan hari penting ini dengan rasa lesu, alih-alih gegap gempita. Fenomena ini disebabkan oleh tantangan yang dihadapi oleh media arus utama, di mana banyak media tempat mereka bekerja terpaksa gulung tikar atau bertahan hidup dengan kondisi yang sangat sulit.

Selama satu dekade terakhir, media cetak dan arus utama lainnya mengalami tekanan yang signifikan. Mereka terpaksa bersaing dengan media sosial yang menawarkan kecepatan, fleksibilitas, dan algoritma yang menarik bagi pengiklan. Dalam upaya bertahan, media mainstream berusaha memperbaiki tampilan dan konten, namun hal ini tidak cukup untuk menarik perhatian audiens di era serba cepat.

Media sosial mampu menyajikan informasi dalam hitungan detik, dan iklan bisa ditayangkan dengan cepat melalui berbagai platform. Influencer dan kreator konten kini menjadi pilihan utama dalam strategi pemasaran, menggeser posisi media arus utama yang sebelumnya diandalkan. Akibatnya, porsi iklan yang diterima oleh media mainstream semakin menyusut, sehingga banyak yang tidak dapat menutup biaya produksi dan operasional.

Kondisi ini menjadi perhatian serius, di mana pemerintah diharapkan untuk tidak berpura-pura tidak melihat. Regulasi yang jelas terkait periklanan di media sosial perlu segera dirumuskan dan diterapkan secara tegas. Sejak pandemi Covid-19 melanda, belanja iklan mengalami penurunan yang signifikan, dan media arus utama hanya bisa bertahan dengan iklan dari relasi yang sudah ada.

Namun, pertanyaannya adalah sampai kapan kondisi ini akan dibiarkan? Tanpa adanya peraturan yang mendukung, media yang telah berperan sebagai pilar demokrasi berisiko hanya tinggal kenangan. Pers memiliki fungsi penting sebagai pengawas kekuasaan, penyedia informasi publik, sarana edukasi, dan ruang diskursus. Tanpa ekosistem yang adil, fungsi-fungsi tersebut akan semakin tergerus.

Banyak media, terutama yang berbasis cetak, masih bergantung pada pendapatan iklan sebagai sumber utama. Media online yang sebelumnya menjadi pendamping juga perlu mendapatkan porsi yang lebih adil dalam pembagian belanja iklan, agar tidak terus-menerus dianaktirikan oleh arus dana yang mengalir ke media sosial.

Jika keadaan ini tidak berubah, tema HPN 2026 yang mengusung slogan “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” berpotensi menjadi kosong. Meskipun indah di spanduk, kenyataannya bisa menjadi hampa di ruang redaksi.