Pemanfaatan AI dalam Jurnalisme: Tantangan dan Peluang
Ruang Press - Praktisi media Anggi Oktarinda menyampaikan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam industri media terus berkembang, meski masih mencari formula ideal dalam membagi peran antara teknologi dan jurnalis manusia. Dalam pemaparan hasil riset penggunaan AI di media, Anggi menekankan pentingnya mendefinisikan batasan peran antara AI dan jurnalis.
Awal Kejadian
Di Jakarta, Anggi menjelaskan bahwa penggunaan AI di ruang redaksi saat ini mencakup berbagai tahap produksi jurnalistik, mulai dari riset isu, proses produksi, distribusi konten, hingga interaksi dengan audiens. Ia membedakan penerapan AI menjadi dua kategori, yaitu front end yang terlihat oleh publik, seperti chatbot dan aplikasi interaktif, serta back end yang mendukung proses kerja redaksi.
Perkembangan
Berdasarkan riset yang dilakukan pada 2024, Anggi menemukan banyak perusahaan media enggan mengakui penggunaan AI secara terbuka akibat kekhawatiran terkait kredibilitas dan etika jurnalistik. Ia menekankan bahwa penerapan AI dalam industri media bukanlah fenomena baru. Contohnya, Associated Press telah menggunakan teknologi AI sejak 2013 untuk mengolah laporan keuangan menjadi artikel otomatis, yang meningkatkan produktivitas hingga 15 kali lipat dibandingkan proses manual.
Di Indonesia, perhatian terhadap penggunaan AI mulai meningkat setelah salah satu stasiun TV swasta memperkenalkan presenter virtual berbasis AI pada 2023. Sejak saat itu, beberapa media mulai menunjukkan pemanfaatan teknologi serupa. Meskipun menawarkan efisiensi, AI memunculkan kekhawatiran di kalangan jurnalis, termasuk isu akurasi, bias informasi, potensi plagiarisme, privasi data, dan ancaman terhadap lapangan kerja.
Kondisi Terakhir
Anggi menyoroti terbitnya Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik oleh Dewan Pers pada Januari 2025 sebagai langkah penting bagi industri media. Pedoman ini memberikan kepastian bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia, serta mengatur prinsip transparansi, akurasi, keamanan, dan mekanisme penyelesaian sengketa. Dalam riset di dua media ekonomi nasional, Anggi menemukan bahwa AI lebih banyak dimanfaatkan untuk tugas teknis seperti merangkum artikel, memeriksa kesalahan penulisan, menerjemahkan naskah, dan pembuatan suara narasi. Ia menegaskan bahwa batasan penggunaan AI bukan pada kemampuannya melakukan pekerjaan manusia, tetapi ketika manusia berhenti memahami dan mengendalikan pekerjaan tersebut.




