Krisis Media di Afghanistan: 40% Outlet Berita Tutup Sejak Kembalinya Taliban
Sumber Foto: Voice of America Indonesia
Ruang Redaksi

Krisis Media di Afghanistan: 40% Outlet Berita Tutup Sejak Kembalinya Taliban

Media berita di Afghanistan menghadapi tantangan yang sangat serius setelah kembalinya Taliban berkuasa. Sebuah survei yang dilakukan oleh Reporters Without Borders (RSF) dan Asosiasi Jurnalis Independen Afghanistan (AIJA) menunjukkan bahwa sekitar 43% media di negara tersebut telah menutup operasinya, yang berakibat pada pengangguran sekitar 60% jurnalis.

Survei tersebut mencatat bahwa dari 543 media yang beroperasi di Afghanistan pada awal musim panas, hanya 312 yang masih beroperasi pada akhir November. Dengan penutupan 231 media, lebih dari 6.400 jurnalis kehilangan pekerjaan sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada pertengahan Agustus 2021.

Penyebab Perubahan Lanskap Media

Salah satu penyebab utama perubahan drastis ini adalah krisis ekonomi yang melanda negara, ditambah dengan pembatasan ketat yang diberlakukan oleh pemerintah Taliban. Hal ini membuat banyak media kesulitan untuk bertahan dan beroperasi.

Dampak pada Jurnalis Perempuan

Perempuan dalam industri media sangat terpengaruh oleh situasi ini, di mana lebih dari 84% dari mereka mengalami pengangguran setelah pengambilalihan Taliban. Sementara itu, tingkat pengangguran di kalangan jurnalis pria mencapai 52%. Meskipun demikian, beberapa stasiun televisi, seperti TOLO TV yang populer, masih memperkerjakan jurnalis perempuan untuk tampil di layar.

Kondisi Kerja yang Sulit

Lingkungan kerja bagi jurnalis di ibu kota dan daerah lain di Afghanistan semakin sulit. Media kini diwajibkan untuk mengikuti "11 Aturan Jurnalisme" yang ditetapkan oleh Kementerian Informasi dan Kebudayaan, yang mencerminkan interpretasi Taliban terhadap doktrin Islam. Aturan-aturan ini berpotensi membuka jalan bagi penyensoran, persekusi, dan pengurangan kemerdekaan jurnalis.

Implikasi bagi Kebebasan Pers

Asosiasi Jurnalis Nasional Afghanistan menyatakan bahwa kondisi ini merusak perkembangan media di negara tersebut. Kurangnya akses terhadap informasi yang tepat dan bebas juga semakin memperburuk situasi bagi wartawan Afghanistan.

Tantangan Ekonomi dan Sosial

Di tengah semua ini, Afghanistan menghadapi berbagai tantangan serius, termasuk ekonomi yang hampir runtuh, stagnasi dalam pendanaan internasional, serta peningkatan angka kelaparan yang mengkhawatirkan. Negara ini juga berhadapan dengan ancaman dari kelompok militan seperti ISIS. Selain itu, aset negara senilai miliaran dolar yang berada di luar negeri, terutama di Amerika Serikat, tetap dibekukan, menambah kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat Afghanistan.