War Takjil: Ruang Kebersamaan dan Toleransi di Solo Saat Ramadan
Ruang Press - RRI.CO.ID, Surakarta - Menjelang adzan magrib, sejumlah titik di Kota Solo berubah menjadi lautan manusia. Dari Area Kampus UNS, Halaman Parkir Manahan, Balai Kota Solo, Alun-alun Kidul, Kampus UMS, Kampung Batik Kauman, hingga Taman Jaya Wijaya Mojosongo, warga tumpah ruah berburu takjil dalam fenomena yang populer disebut “War Takjil”.
Ramadan bukan sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menghadirkan perubahan ritme kota. Dalam dua jam menjelang berbuka, ruang-ruang publik mendadak menjadi pasar musiman yang padat, penuh interaksi sosial dan transaksi ekonomi.
Di Taman Jaya Wijaya Mojosongo misalnya, pedagang berjejer rapi menjajakan kolak pisang, es buah warna-warni, aneka gorengan hangat, hingga minuman kekinian. Anak-anak kecil menggandeng orang tuanya, remaja berkumpul sambil tertawa, dan para pekerja kantoran mampir sepulang aktivitas.
Afif (30), salah satu pendatang, mengaku sengaja datang untuk meramaikan suasana. “Ingin juga meramaikan war takjil di sini, meskipun di luar Ramadan di sini juga selalu ramai, tapi ini lebih ramai lagi, makanannya juga lebih banyak,” ujarnya kepada RRI.
Menurut Afif, suasana Ramadan terasa berbeda. Selain pilihan makanan yang semakin beragam, ada sensasi kebersamaan yang sulit ditemukan di bulan-bulan lain. “Rasanya lebih hidup. Semua orang seperti punya tujuan yang sama, nunggu buka sambil cari jajanan,” ujarnya.
Menariknya, War Takjil di Solo tidak hanya diramaikan umat Muslim. Fika (19), seorang warga non-Muslim yang turut berburu jajanan, mengaku menikmati suasana Ramadan. “Saya non muslim, tidak puasa, tapi senang aja ikut jajan waktu jam ngabuburit, ikut meramaikan bulan Ramadan, sekalian nglarisin UMKM,” katanya.
Secara sosial, War Takjil menjadi ruang perjumpaan lintas identitas. Tradisi berburu jajanan berbuka ini menghadirkan kebersamaan yang cair tanpa sekat agama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan di Solo tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi juga peristiwa sosial yang menghadirkan kebersamaan. Aktivitas berburu takjil menjadi ruang interaksi lintas agama dan generasi, sekaligus menggerakkan roda ekonomi pelaku UMKM musiman.
Namun di sisi lain, lonjakan pengunjung juga memunculkan tantangan, seperti kepadatan lalu lintas dan penumpukan sampah kemasan. Oleh karena itu, pengelolaan ruang publik yang tertib dan kesadaran bersama dinilai penting agar tradisi ini tetap membawa dampak positif.
War Takjil di Solo pun menjadi potret bagaimana waktu suci Ramadan mampu mengubah wajah kota. Di balik antrean jajanan berbuka, terselip semangat kebersamaan, toleransi, dan geliat ekonomi rakyat yang tumbuh setiap bulan Ramadan. (Hil)




