Transformasi Jurnalisme: Peran Kecerdasan Buatan dalam Ruang Redaksi
Sabang— Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sedang mengubah paradigma kerja jurnalis. Dalam Forum Komunikasi Mitra Jurnalis 2025 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Aceh di Mata Ie Resort, Sabang, para pembicara membahas peran AI sebagai alat bantu yang semakin penting dalam proses penulisan, riset, dan penyuntingan berita.
Haresti Aysy Amrihani, anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), menjelaskan bahwa AI bukan sekadar tren sementara, melainkan telah menjadi bagian integral dari industri media modern. "Dengan kehadiran AI ini bisa membantu industri media kita," ujarnya.
Menurut Haresti, teknologi AI dapat mempercepat proses kerja redaksi dalam mengolah data, memeriksa fakta, dan bahkan menulis draf berita secara otomatis. Contoh yang paling dikenal adalah GPT (Generative Pre-trained Transformer), sebuah sistem berbasis bahasa yang mampu menghasilkan teks mirip tulisan manusia. "Dalam waktu dua bulan sejak diluncurkan, GPT sudah digunakan oleh lebih dari 100 juta pengguna, sementara aplikasi lain biasanya memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mencapai angka tersebut," tambahnya.
Pemanfaatan AI dalam jurnalisme dianggap dapat membantu wartawan memenuhi tuntutan industri media yang semakin mengedepankan kecepatan dan akurasi. Namun, para jurnalis juga diingatkan untuk terus menjunjung tinggi etika dan keaslian dalam karya jurnalistik mereka meskipun teknologi ini semakin mendominasi.
Diskusi ini menjadi momen penting bagi jurnalis di Aceh untuk memahami baik potensi maupun tantangan yang ditawarkan oleh kecerdasan buatan. Lebih dari sekadar alat bantu, AI kini berfungsi sebagai mitra baru dalam proses kreatif dan profesional di ruang redaksi.




