Tingginya Permintaan Talenta Komedi di Industri Hiburan Indonesia
Ruang Press - tirto.id - Industri hiburan kita belakangan ini rasanya sedang "dijajah" oleh para komika. Coba nyalakan TV, buka channel podcast di YouTube, atau pergi ke bioskop, wajah-wajah dan nama para stand up comedian ini pasti wara-wiri di sana.
Mereka tidak hanya melucu di atas panggung sambil memegang mik, tapi juga merambah jadi aktor watak, penulis skenario, hingga duduk di kursi sutradara. Fenomena ini bukan kebetulan semata. Muhadkly Acho, salah satu komika senior yang sudah terjun sejak gelombang awal di tahun 2011, melihat ini sebagai buah manis dari perjalanan panjang komunitas yang solid dan kebutuhan industri akan talenta yang lebih segar dan organik.
Menurut Acho, dominasi ini terjadi karena komika menawarkan sesuatu yang selama ini hilang dari layar kaca kita: keterwakilan. Kalau dulu artis identik dengan standar fisik yang mendekati sempurna dan berjarak, komika justru datang dengan wajah-wajah yang mewakili orang kebanyakan.
Mereka dulunya adalah mahasiswa, pekerja kantoran, bahkan ojol, yang kemudian naik panggung membawa keresahan sehari-hari. Kedekatan inilah yang bikin penonton merasa sedang melihat teman tongkrongannya sendiri sukses.
Dalam obrolan santai ini, kami berbincang banyak hal dengan Acho soal ekosistem komedi yang saling dukung, bagaimana menjaga relevansi agar tidak cuma jadi tren sesaat, hingga rahasia di balik meledaknya film Agak Laen.
Acho juga blak-blakan soal mana yang sebenarnya lebih "cuan": panggung stand-up atau industri film? Simak obrolan lengkap Tirto bersama Muhadkly Acho berikut ini.
Banyak komika saat ini seperti tengah menginvasi industri hiburan nasional. Menurut pandangan Mas Acho, kenapa fenomena ini bisa terjadi hari ini?
Sebetulnya sih dominasi komika kayaknya sudah mulai dari beberapa tahun terakhir, ya. Cuma memang makin ke sini makin masif. Ya, sejak 10 tahun terakhir, ya, 15 kira-kira begitu.
Kalau aku sih ngelihatnya, demand untuk talent-talent komedi memang lagi tinggi. Dan memang selama ini kan ada TV, ada film, ada panggung kesenian. Ditambah lagi sekarang juga banyak OTT di Indonesia. Ada Netflix, ada apa segala macam.
Jadi, seiring bertambahnya panggung, berarti membutuhkan semakin banyak juga talent. Sementara mungkin yang terbiasa kita lihat selama ini, TV itu dikuasai sama orang-orang yang itu-itu saja. Jadi, ketika ada talent-talent baru yang bisa menghadirkan value yang sama, TV jadi lebih berani, film juga lebih berani membuka kesempatan ke orang-orang baru ini. Karena output -nya dirasa maksimal. Ketimbang harus meng- hire orang yang itu-itu terus.
Kalau kita bandingkan dengan zaman dulu, kan identik dengan tampilan ganteng, cantik, menarik di layar kaca. Sekarang bergeser ke sisi komedinya. Menurut Mas Acho, apa yang membuat publik lebih menerima komika tampil di layar kaca hari ini?
Mungkin ada isu kedekatan juga. Karena komika-komika ini bukan seperti aktor atau orang-orang di industri hiburan yang proses masuk industrinya mungkin ada privilege dari lingkungan yang memang sudah berkecimpung di dunia film.
Sementara komika ini kan ada yang mahasiswa, ada yang orang kantoran, ada yang tukang gojek, ada yang macam-macam. Jadi ngerasa wajah-wajah yang mewakili orang kebanyakan. Melihat mereka ada di layar kaca itu seperti melihat representasi orang pada umumnya.
Jadi, senang juga melihat orang yang, tanda kutip, quote-unquote, orang biasa tiba-tiba ada di posisi bintang. Itu unik buat penonton karena merasa jadi lebih dekat.
Dari sisi komikanya juga, ketika ditempatkan sebagai entertainer, mereka tetap menjadi diri sendiri. Lebih organik. Cara mereka berkomedi juga seperti di tongkrongan. Jadi penonton melihat, “Oh, ini lebih dekat kayaknya sama gue.”
Sisi kedekatan itu juga terlihat dari media sosial, ya?
Iya. Presence mereka di media sosial lebih less exclusive dibanding artis-artis lain. Mereka gampang di- reach, gampang berkomunikasi dengan fans.
Sementara aktor atau artis yang sudah established biasanya punya jarak. Orang komentar, tapi jarang dibalas. Kalau komika, kadang malah tiba-tiba malam-malam live, invite followers. Proses kedekatan itu yang bikin penonton merasa lebih dekat. Reachable.
Apakah ini juga ada kaitannya dengan komunitas stand-up comedy Indonesia yang dikenal solid dan saling mendukung?
Menurut gue, pengaruh besarnya memang dari situ. Karena kita berangkat dari komunitas yang sama. Apa pun latar belakangnya, semuanya berawal dari komunitas.
Tidak ada membedakan mahasiswa, yang lebih tua, lebih senior, atau dari mana. Kita sama-sama memulai dari komunitas dan saling support. Jadi ngerasa kesuksesan dia juga kesuksesan kita. Solid saja begitu.
Berarti sistemnya memang saling rangkul, ya?
Mereka itu, tanpa diminta pun yang punya podcast langsung hubungin, “Mampir dong ke podcast buat promo film,” dan sebagainya.
Berjejaring itu jadi mudah. Bahkan ketika promo ke luar kota atau lagi syuting di luar kota, walaupun cuma satu-dua scene, kita bisa mikir, “Siapa ya komika komunitas di sini yang lagi available?” Kita bisa sefleksibel itu.
Yang kepikiran langsung sesama komika?
Iya, karena gampang untuk di- reach. Kalau sudah sesama komunitas, pasti gampang. Sementara kalau yang sudah lebih profesional, alurnya biasanya lebih berbelit. Ada manajer, jadwal lebih padat. Jadi kalau bisa, kita-kita saja lebih gampang.
Ada juga faktor sistem 'abang-abangan', ya?
Mungkin ada faktor itu, tapi sebenarnya tidak harus abang-abangan. Karena umur di komunitas juga majemuk. Ada yang masih sekolah sampai yang sudah lansia juga ada. Jadi kayaknya memang karena sesama pelaku stand-up comedy, saling support -nya lebih cepat saja.
Kalau perbedaan skena stand-up comedy awal-awal dibandingkan dengan hari ini yang ekosistemnya sudah terbentuk, apa menurut Mas Acho?
Ya, bedanya kalau di era 2011 itu kita masih era-era meraba-raba industri. Karena keseniannya juga baru, kita juga enggak tahu bisa nge- blend di bagian mana. Yang kita tahu ya panggung kita panggung stand-up comedy saja saat itu. Dan sempat ada keraguan juga dari orang-orang, kayak ini sebetulnya akan jadi tren sesaat saja atau memang bisa berkesinambungan.
Kayaknya titik-titik mulai ngerasa ini bisa jalan panjang itu ketika sudah bisa masuk ke industri film. Karena ketika sudah mulai masuk ke industri film, kita ngerasa, oke lah, kalau stand-up comedy itu kesenian yang baru, tapi film kan industri yang sudah well established di Indonesia.
Artinya, kalau stand-up comedian sudah bisa diterima di industri itu, selama kita bisa perform, ke depannya pasti akan terbuka lagi kesempatan-kesempatan di film. Dan ternyata benar, makin terbuka, bahkan makin cepat pergerakannya.
Kelebihan yang dimiliki para stand-up comedian itu karena kita terbiasa menulis materi sendiri. Jadi mindset kita bukan lagi pelakon, tapi creator.
Di set itu bukan cuma membaca skrip, tapi sudah bisa menilai, “Ini kayaknya kalau gue improve begini, bisa lebih bagus,” karena ada knowledge tentang penulisan komedi. Makanya jadi banyak yang terserap di industri.
Ada yang jadi penulis. Jadi enggak cuma di depan layar. Ada yang jadi sutradara, ada yang jadi produser bahkan. Jadi versatile saja selama ranahnya masih komedi.
Berarti memang penulisan itu kuncinya, sebelum kemudian komika bisa masuk ke berbagai lini industri, mulai dari perfilman, situasi komedi, dan sebagainya?
Iya. Karena kalau tren pelawak zaman dulu kan banyak yang bermain di improvisasi, di set, di panggung. Celetukan atau hal-hal yang sifatnya spontanitas.
Sementara kalau di channel stand-up comedy, itu diajarkan tidak ada jokes yang tidak ditulis. Semua harus ditulis. Panggung itu hanya seni menyampaikan. Tapi apa yang mau diomongin itu semua terkonsep, tertulis.
Jadi cara berpikirnya memang sudah strategis. Ketika ditempatkan dalam sebuah sketsa lawak pun, otaknya muter terus, habis ini gue masuk ngomong apa, karena sudah strategis banget.
Cara kerja otaknya itu sebetulnya scripted. Itu juga yang membuat kenapa banyak komika jadi penulis skenario, jadi sutradara, jadi konsultan komedi.
Bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu yang mungkin enggak dimiliki figur-figur lainnya.
Berarti itu nilai plusnya, ya?
Ya, mungkin itu yang jadi nilai plusnya. Karena terbiasa menulis, analytical thinking -nya lebih jalan ketika bicara komedi. Dikasih skrip pun mereka enggak akan langsung, “Ya sudah, jalanin saja.” Pasti ada diskusi, “Kalau misalnya dibikin begini gimana?”
Karena mereka terbiasa menulis materi komedinya. Apalagi kalau dikasih ruang untuk menulis skenario, berarti ketemu dengan background yang memang seharusnya mereka bisa berkembang.
Kalau menurut Mas Acho, kira-kira komika akan bertahan berapa lama di industri komersial kita hari ini?
Kayaknya yang bikin bertahan itu bukan masalah status komika atau bukan. Karena ini berlaku ke semua latar belakang. Semua balik lagi ke bagaimana dia perform di industri ini, memberikan dampak seberapa besar, dan mungkin attitude juga. Karena industri ini gampang banget naik dan gampang banget turun.
Sekali orang melakukan kesalahan besar, itu bisa langsung downfall. Di media sosial bisa langsung tenggelam, bisa langsung di- cancel banyak orang.
Jadi selama dia perform baik dan enggak neko-neko, attitude -nya baik, menurut gue siapa pun bisa bertahan lama, bukan hanya komika.
Terakhir soal Agak Laen ini kan sukses besar, menurut Mas Acho sebagai sutradara dan penulis, apa saja faktor pendukungnya?
Membuat sukses kayaknya banyak faktor. Cuma ya memang balik lagi seperti kita jualan produk. Mau dimarketingkan sebaik apa, pada akhirnya produk itu sendiri yang akan berbicara ke konsumen.
Orang tidak akan ngajak temannya nonton ke bioskop kalau dia tidak terkesan dengan filmnya itu sendiri. Artinya, kualitas cerita, kualitas akting, kualitas produksi masih menjadi faktor utama.
Selebihnya adalah momen-momen yang datang secara bersamaan ketika film itu tayang. Bisa jadi kemampuan daya beli orang saat itu, atau waktu luang yang dimiliki orang untuk ke bioskop. Karena ke bioskop itu butuh persiapan. Tidak bisa seperti ke toko sebentar.
Mereka harus meluangkan waktu 3-4 jam keluar rumah dan mengeluarkan uang yang tidak murah. Itu seperti orang rekreasi. Jadi harus benar-benar bisa membuat orang merasa, “Gue harus nonton film ini sekarang.”
Karena kalau tidak, orang bisa berpikir, “Oh, nanti saja kalau sudah tayang di Netflix.” Jadi harus bisa menciptakan fear of missing out juga. Itu yang mendorong kemudian 11 juta orang mau datang ke bioskop.
Tapi faktor utamanya tetap dari produknya. Dari situ word of mouth berjalan. Dan mungkin juga karena apa yang ditampilkan di Agak Laen itu relatable dengan cerita hidup mereka.
Penonton tidak perlu membayangkan jauh-jauh karakternya. Tidak perlu susah berempati karena apa yang dialami empat orang di film itu dekat dengan kehidupan mereka. Sangat mungkin juga mereka alami. Jadi mereka paham rasanya menjadi keempat orang itu.
Ditambah lagi ada unsur lokalitas yang cukup kental di Agak Laen. Itu menimbulkan rasa bangga bagi kota atau suku tertentu karena merasa terwakili di layar lebar. Keinginan untuk menyebarluaskannya jadi tinggi.
Faktor waktu penayangan juga berpengaruh. Misalnya penayangan terakhir kemarin di awal bulan. Bayangan kita, mudah-mudahan orang baru habis gajian. Waktu penayangan pertama juga bertepatan dengan libur Pemilu. Mungkin orang sedang penat, ingin melepas stres, butuh hiburan yang murah meriah. Bioskop bisa jadi salah satunya.
Jadi banyak faktor yang tidak bisa kita duga datangnya kapan. Tapi setidaknya, kalau produknya sudah disiapkan dengan baik, ketika momen-momen itu datang satu per satu, produknya sudah siap. Karena meskipun momentumnya datang bersamaan, kalau produknya tidak bagus, tetap tidak akan bisa teramplifikasi. Orang juga tidak akan merekomendasikan kalau mereka tidak terkesan.
Betul. Makanya daripada menunggu momentum, lebih baik fokus menyiapkan hal yang bisa kita atur. Yang bisa kita atur kan produknya. Jadi siapkan saja produknya sebaik mungkin. Siapa tahu momentumnya datang.




