Tinggal Meninggal: Film Komedi yang Mencuri Perhatian di Netflix
Oleh: T Lyla Amelia Khaidir
Suara USU, Medan. Film debut Kristo Immanuel sebagai sutradara, Tinggal Meninggal, mendapat sorotan setelah hadir dan dapat dinikmati melalui platform Netflix. Sorotan yang besar dari publik menunjukkan peningkatan ketertarikan penonton pada film ini. Padahal, sebelumnya saat tayang di bioskop hingga turun layar pada 15 Agustus 2025, film ini tidak mendapat perhatian yang cukup besar.
Berdasarkan unggahan resmi rumah produksi Imajinari melalui akun instagram @imajinari.id, Tinggal Meninggal mendapatkan 184.960 penonton selama penayangan. Jumlah yang sebenarnya terbilang rendah jika dibandingkan film-film produk Imajinari lainnya, terutama salah satu film yang Agak Lain: Menyala Pantiku yang berhasil memuncaki klasemen film terlaris Indonesia sepanjang masa. Meskipun demikian, beberapa faktor seperti menjamurnya ragam film pada masa penayangan tidak dapat dipungkiri menjadi alasan film apik ini lebih cepat pamit dari layar lebar.
Bicara perihal kualitas, Tinggal Meninggal hadir dengan keunikannya sendiri. Film ini mengangkat tema berbeda dari kebanyakan film komedi yang dibesut sineas Tanah Air. Seperti juga yang disampaikan dalam laman Tempo, berkat penulisan skenario yang menarik serta kelihaian aktor dalam memerankan tokoh utama, Tinggal Meninggal berhasil mengamankan lima penghargaan pada JOGJA-Netpac Asian Film Festival (JAFF) ke-20.
Sejak muncul di platform Netflix pada 1 Januari 2026 lalu, Tinggal Meninggal akhirnya menunjukkan nyalanya. Para pengguna media sosial X (dulu Twitter), ramai-ramai menuliskan ulasan yang hampir semuanya bernada positif. Beberapa ulasan juga menyebutkan harus berkali-kali menghentikan tontonan dikarenakan mereka seolah tertarik dalam perasaan malu pada tingkah polah pemeran utama. Ada pula cuitan yang menyebut perlu menyiapkan mental untuk menonton Tinggal Meninggal sampai tuntas, sampai pengakuan salah seorang pemilik akun X yang butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikan tontonan tersebut.
Episentrum Tinggal Meninggal adalah Gema, laki-laki muda yang dikisahkan mengalami neurodivergent, problem psikologis yang menyebabkan ia memandang dunia dengan cara berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Kondisi tersebut, dalam film dikisahkan sedikit banyak mendapat pengaruh dari pengalaman masa lalu yang buruk. Saat masih bocah, Gema kerap diejek “Camen” atau cacat mental oleh teman sebayanya lantaran dianggap tidak mampu terkoneksi dalam interaksi sehari-hari dan acap kali diciduk berbicara sendiri.
Keadaan Gema kecil diperburuk dengan tidak adanya peran orang tua yang menemani dan mengarahkannya dalam bertindak, yang menyebabkan Gema kecil sama sekali tidak memiliki teman bercerita selain dirinya. Gema yang tidak dapat perhatian itu mau tidak mau tumbuh menjadi orang yang kaku, kikuk dan sulit berteman.
Namun, keadaan berubah saat ayahnya meninggal dunia. Rekan-rekan kantornya yang mendengar kabar ini sontak menaruh perhatian dan menemaninya, hal yang tidak pernah ia dapatkan. Sayangnya, keadaan ini tidak berlangsung lama, berita duka itu pelan-pelan meredup begitu pula dengan afeksi terhadap dirinya. Merasakan kehilangan itu,Gema mencari cara agar ia dapat mempertahankan perhatian. Ia mulai memberikan kebohongan-kebohongan aneh yang mengarahkan situasi menjadi lebih kacau.
Dibungkus dengan kisah dan upaya-upaya absurd yang disajikan pemeran utama, Tinggal Meninggal dengan Gema yang diperankan Omara Esteghlal. Omara mencuri perhatian warganet akan kesuksesannya memerankan Gema dalam setiap adegan yang berhasil menciptakan suasana was-was, geli, hingga canggung. Selain Omara, film Tinggal Meninggal yang berdurasi 120 menit ini juga dibintangi oleh Nirina Zubir, Mawar de Jongh, Muhadkly Acho, Shindy Huang, Nada Novia, Ardit Erwandha, hingga Mario Caesar.
Deretan pemain yang membintangi film ini berhasil menciptakan berbagai karakter dengan masing-masing keunikan yang membumbui setiap adegan dalam film terasa lebih hidup dan berwarna. Selain itu, dalam beberapa adegan penonton seakan diajak untuk ikut bermain dan mendapatkan peran mereka dalam kehidupan Gema. Peran penonton dalam film ini menyebabkan tension yang dibangun semakin terasa sesak, penonton seakan dipaksa menemani Gema sehingga secara tak sadar mengikat emosi mereka dengan pemeran utama seiring berjalannya setiap adegan. Hal inilah yang menyebabkan rasa malu dan geli kerap kali dirasakan oleh para penonton.
Penonton mengakui bahwa keadaan Gema sangat sering mereka temui di lingkungan pertemanan, tapi masih tidak banyak yang memiliki kesadaran untuk memahami dan mendampingi orang-orang seperti Gema. Uniknya, hal ini pula yang menciptakan perasaan simpati yang terbangun dalam hati penonton sepanjang dan setelah menonton Tinggal Meninggal. Banyak orang yang mengaku tergugah untuk menjadi pribadi yang lebih peka terhadap orang-orang di sekitarnya, serta beberapa lainnya merasa mereka seakan telah ‘dikuliti’ habis-habisan setelah menonton film ini. Eksistensi Tinggal Meninggal menunjukkan bahwa pengambilan latar cerita yang unik nan absurd tapi juga sederhana seperti ini, mampu masuk dan menggugah para penonton secara mendalam, bahkan tanpa disadari.




