Ruang Press - Terusan Panama kini menjadi jalur strategis dalam arus perdagangan global, terutama di tengah konflik di Timur Tengah yang mempengaruhi pengiriman energi. Meskipun hanya menangani sekitar 5-6% perdagangan maritim dunia, kanal ini mengalami lonjakan permintaan yang signifikan, terutama untuk ekspor energi dari Amerika Serikat ke Asia.
Perang dan ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, berdampak langsung pada aktivitas di Terusan Panama. Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan pengiriman energi melalui kanal ini, dengan jumlah kapal yang melintas mendekati kapasitas maksimumnya, yaitu 36-40 kapal per hari.
Permintaan untuk liquefied natural gas (LNG) dan liquefied petroleum gas (LPG) dari Amerika Serikat telah meningkat, mendorong pertumbuhan volume pengiriman melalui Terusan Panama. Meskipun secara keseluruhan volume perdagangan kanal ini terbilang kecil dibanding chokepoint lain, peranannya semakin penting akibat perubahan pola perdagangan energi global. Panama telah memperluas infrastruktur kanal sejak 2016 untuk melayani kapal-kapal yang lebih besar, dengan sekitar 1 juta barel LPG melintasi kanal setiap hari.
Lonjakan aktivitas di Terusan Panama telah meningkatkan pendapatan negara, dengan tarif pelayaran yang melonjak hampir tiga kali lipat. Namun, administrator kanal, Ricaurte Vásquez Morales, memperingatkan bahwa kenaikan ini mungkin tidak bertahan lama jika situasi di Selat Hormuz kembali normal. Selain itu, tantangan jangka panjang seperti perubahan iklim dan kekurangan air juga mengancam operasional kanal. Proyek pembangunan bendungan di Sungai Indio diharapkan dapat mengatasi masalah ketersediaan air, sementara tekanan geopolitik antara Amerika Serikat dan China semakin membayangi masa depan Terusan Panama.