Tantangan Penerapan Data Science di Ruang Redaksi Media Digital di Indonesia: Studi Kasus Detik.com dan Kumparan
Sumber Foto: Universitas Airlangga Official Website
Ruang Redaksi

Tantangan Penerapan Data Science di Ruang Redaksi Media Digital di Indonesia: Studi Kasus Detik.com dan Kumparan

Perkembangan pesat jurnalisme digital di Indonesia telah membawa dampak signifikan pada operasional ruang redaksi. Salah satu inovasi yang muncul adalah penggunaan data science sebagai alat untuk menganalisis audiens, memprediksi tren, dan merumuskan strategi produksi berita. Namun, tidak semua organisasi media digital-native berhasil mengimplementasikan teknologi ini secara optimal.

Penelitian yang dilakukan pada dua media digital terbesar, Detik.com dan Kumparan, mengungkap tantangan yang dihadapi dalam penerapan data science. Kedua media ini dikenal sebagai pelopor inovasi berbasis data dalam dunia jurnalisme. Mereka memanfaatkan data science untuk memahami perilaku pembaca, menentukan waktu publikasi yang tepat, mengelola distribusi konten, dan memetakan ketertarikan audiens.

Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan analitik data dalam proses editorial masih terhambat oleh berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah ketidaksiapan infrastruktur data dan kualitas metadata yang tidak konsisten. Selain itu, sistem integrasi antara divisi redaksi dan divisi teknologi yang masih terbatas mengakibatkan pemanfaatan data belum sepenuhnya mendukung pengambilan keputusan redaksional secara real-time.

Aspek sumber daya manusia juga menjadi isu penting. Banyak jurnalis yang belum memiliki literasi data yang cukup untuk membaca, menganalisis, dan menafsirkan informasi berbasis algoritmik. Akibatnya, hasil olahan data science sering kali masih bergantung pada interpretasi manual dari jurnalis. Detik.com cenderung menggunakan data untuk menilai performa konten dan strategi optimasi klik, sedangkan Kumparan lebih fokus pada personalisasi konten dan pendekatan social-listening berdasarkan tren pembicaraan.

Meskipun kedua media ini telah menunjukkan kemajuan, mereka juga menghadapi tantangan besar ketika algoritma belum sepenuhnya mampu mengenali konteks sosial, budaya, dan dinamika politik Indonesia.

Pentingnya etika dalam jurnalisme juga menjadi sorotan. Tekanan untuk memprioritaskan konten yang menghasilkan engagement tertinggi dapat menggeser fokus jurnalisme dari kedalaman isi menjadi sekadar mengejar angka-angka seperti klik, views, dan waktu baca. Jika hal ini berlanjut, ada risiko bahwa standar jurnalistik akan tergeser oleh prioritas yang terlalu didorong oleh data.

Meski demikian, baik Detik.com maupun Kumparan menunjukkan kemajuan yang signifikan, mencerminkan transisi jurnalisme digital di Indonesia menuju newsroom yang berorientasi pada data. Transformasi ini memerlukan penguatan infrastruktur teknologi, standardisasi manajemen data, peningkatan kolaborasi antara jurnalis dan teknisi, serta pengembangan kurikulum pelatihan literasi data untuk para pekerja media. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan penerapan data science dapat meningkatkan kualitas jurnalistik, bukan sekadar performa konten.