Syu'bah Asa: Perjalanan Seorang Kiai dalam Dunia Jurnalistik dan Kesenian
Sumber Foto: Tirto.id
Ruang Redaksi

Syu'bah Asa: Perjalanan Seorang Kiai dalam Dunia Jurnalistik dan Kesenian

Syu'bah Asa, seorang mantan wartawan majalah TEMPO, memiliki perjalanan hidup yang menarik dan beragam. Lahir di Pekalongan pada 21 Desember 1941, Syu'bah awalnya bercita-cita menjadi seorang kiai. Namun, jalan hidup membawanya ke dunia kesenian, terutama sastra dan seni panggung. Sejak usia 9 tahun, ia aktif di Teater Muslim yang dipimpin oleh Mohammad Diponegoro.

Ketika menempuh pendidikan di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, kecintaannya terhadap seni peran semakin mendalam. Meskipun tidak menyelesaikan skripsi dan berhenti pada jenjang sarjana muda pada tahun 1964, Syu'bah mulai membangun reputasi sebagai sastrawan. Ia menulis sejumlah cerita pendek dan puisi, serta sebuah novel berjudul Cerita di Pagi Cerah yang diterbitkan pada tahun 1960.

Pindah ke Jakarta dan Bergabung dengan TEMPO

Pada awal tahun 1970, Syu'bah pindah ke Jakarta dan bergabung dengan majalah EKSPRES. Namun, perpecahan di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) membuat redaksi EKSPRES terpaksa bubar. Bersama wartawan lainnya, ia mendirikan majalah TEMPO yang terbit perdana pada 6 Maret 1971. Syu'bah menjadi salah satu staf redaksi sejak awal berdirinya majalah tersebut.

Di TEMPO, Syu'bah menggawangi berbagai rubrik, termasuk rubrik Agama yang menjadi perhatian utamanya selama 16 tahun. Pengetahuannya dalam bidang agama, hasil dari pendidikan yang dijalaninya, membuatnya dijuluki sebagai "kiai" oleh rekan-rekan di redaksi. Ia dikenal sebagai editor yang cakap dan apresiatif terhadap penulis, termasuk mengedit naskah-naskah penting dari tokoh seperti Abdurrahman Wahid.

Konflik di Ruang Redaksi

Selama bekerja di TEMPO, Syu'bah tidak terlepas dari konflik internal, terutama dengan rekan-rekan yang memiliki pandangan berbeda, termasuk masalah deadline. Ketidakpuasannya terhadap manajemen redaksi dan ketidakacuhan terhadap kebutuhan wartawan membuatnya jengah. Pada akhirnya, Syu'bah memutuskan untuk keluar dari TEMPO bersama dengan sekitar 30 anggota redaksi lainnya.

Pascakeluarnya dari TEMPO

Setelah meninggalkan TEMPO, Syu'bah terlibat dalam pendirian majalah baru bernama EDITOR pada tahun 1987. Meskipun telah mundur dari dunia jurnalistik, ia tetap aktif menulis dan menerbitkan berbagai buku, termasuk buku-buku yang membahas agama dan sosial. Syu'bah Asa terus berkarya hingga akhir hayatnya pada 24 Juli 2011.