Syamsul B. Nasution: Warisan Jurnalistik yang Tak Terlupakan di Lampung
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Pada Senin siang, suasana di TPU Beringin Raya, Kemiling, dipenuhi dengan nuansa syahdu saat keluarga dan rekan-rekan mengantarkan Syamsul B. Nasution ke peristirahatan terakhirnya. Di bawah pepohonan rindang dekat SMPN 13, tanah Bandar Lampung menyambut tubuh seorang sosok yang telah menghidupkan dunia jurnalistik di daerah ini selama puluhan tahun.
Syamsul B. Nasution, yang lahir di Sumatera Utara dan dibesarkan di Bandung, menghabiskan akhir hidupnya dengan mengabdi pada marwah pers Lampung. Ia bukan hanya seorang wartawan, melainkan juga seorang kurator kata, arsitek redaksi, dan mentor yang beroperasi dalam kesunyian.
Pena, Integritas, dan Kenangan Meja Gaple
Bagi mereka yang mengenalnya, Syamsul, yang akrab disapa Bang Syamsul, adalah perpaduan antara ketegasan profesional dan kehangatan personal. Ilham Jamhari, wartawan Media Indonesia Biro Lampung, mengenang momen-momen indah saat bermain gaple di kediaman almarhum. “Hampir setiap malam kami bermain gaple, terutama selama bulan puasa, sampai sahur,” kenangnya.
Ilham juga merasa terhormat karena dipercaya untuk memberi nama putri almarhum, Firda Nasution. “Selamat jalan Sobat menuju Sang Khalik. Semoga husnul khotimah,” ungkapnya dengan penuh haru.
Membangun Martabat Jurnalistik
Di mata junior-juniornya yang kini menjadi tokoh pers, Syamsul adalah sosok yang patut dijadikan teladan. Rozali Umar dari LAKH PWI mengingat betapa Syamsul menanamkan nilai-nilai penting dalam dunia jurnalistik, termasuk kemahiran merangkai kata dan integritas kode etik. “Dari beliau, saya memahami bahwa wartawan dan advokat memiliki nafas yang sama: kata-kata yang tepat dan integritas yang tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, Herman Bathin Mangku menyebut Syamsul sebagai “Sang Konseptor” yang diutus oleh Surya Persindo Group untuk membenahi Lampung Post menjelang milenium baru. Ia tak hanya mempercantik tampilan koran, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan wartawan.
Kepemimpinan yang Peduli
Kenangan mendalam juga datang dari mantan anak buahnya di Lampung TV. Abdul Wahab mengenang betapa Syamsul tidak pelit dalam berbagi ilmu, selalu mengevaluasi karya-karya dengan cermat. “Beliau bahkan rela menggadaikan sertifikat rumahnya untuk menalangi gaji karyawan yang tertunggak,” tuturnya, menggambarkan Syamsul sebagai pelindung yang peduli.
Rendah Hati dalam Pembelajaran
Meski sudah dikenal sebagai seorang ahli, Syamsul tetaplah seorang pembelajar. Iskandar Zulkarnaen, mantan Pemred Lampung Post, mengingat momen saat Syamsul mengikuti ujian UKW Utama pada tahun 2018 dengan rendah hati, meskipun ia sudah berpengalaman.
Obsesi yang Belum Tercapai
Hingga akhir hayatnya, semangat kreatif Syamsul tidak pernah padam. Dalam percakapan terakhirnya dengan Herman Bathin Mangku, ia berbagi mimpi untuk membangun lembaga pendidikan jurnalistik di Jatiagung, Lampung Selatan, dengan harapan mencetak generasi jurnalis baru yang tidak hanya mahir dalam teknologi, tetapi juga berpegang pada etika. Proyek tersebut sudah mencapai 80 persen, namun Tuhan memiliki rencana lain.
Kini, pesan-pesan yang dikirimkan para sahabatnya hanya menyisakan dua centang abu-abu yang tak akan pernah berubah menjadi biru. Bang Syamsul telah berpulang, namun jejaknya akan selalu hidup dalam setiap baris berita yang ditulis dengan jujur dan berani di Lampung.




