Survei Menunjukkan Media Online di Indonesia Kurang Maksimalkan Interaksi dengan Audiens
Media online di Indonesia dinilai kurang memanfaatkan ruang interaksi dengan audiens, meskipun cara konsumsi informasi telah berubah seiring dengan perkembangan era digital. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak media masih menjalankan pola bisnis yang terkesan konvensional, seolah-olah terjebak dalam era media cetak.
Kurangnya keterlibatan audiens dalam proses pembuatan konten menjadi sorotan utama. Media online seharusnya memanfaatkan potensi besar interaksi langsung dengan pembaca, yang tidak hanya terbatas pada kolom komentar atau tombol berbagi. Sebaliknya, sebagaimana diungkapkan dalam survei yang dilakukan oleh Monash Data and Democracy Research Hub (MDDRH) dan Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI), pelibatan audiens dalam proses pembuatan konten masih sangat terbatas.
Hasil Survei
Survei yang dilakukan antara 16 Juni hingga 2 Juli 2025 ini melibatkan 220 media anggota AMSI dari berbagai ukuran, mulai dari media besar hingga kecil. Hasilnya menunjukkan bahwa media besar hanya melibatkan audiens dalam rentang 2,8% hingga 22,2%, sementara media menengah-besar dan menengah-kecil menunjukkan angka yang lebih rendah, yaitu 0% hingga 15,4% dan 0% hingga 2,04% masing-masing. Media kecil bahkan hanya mencapai 0% hingga 4,9% dalam hal keterlibatan audiens.
Rendahnya pelibatan ini berakibat pada kurang maksimalnya engagement audiens terhadap media siber. Banyak pembaca merasa berita yang disajikan tidak relevan dengan pengalaman mereka, sehingga mengurangi niat untuk membagikan konten tersebut.
Peluang Teknologi yang Terabaikan
Selain itu, survei juga mencatat bahwa hanya 20,45% media yang memproduksi konten melalui podcast dan 12,72% yang memanfaatkan aplikasi mobile. Padahal, aplikasi mobile dapat memberikan kemudahan distribusi tanpa bergantung pada algoritma mesin pencari atau media sosial, serta meningkatkan engagement melalui fitur notifikasi. Inovasi dan adaptasi teknologi dalam media Indonesia masih terfokus pada distribusi, sementara model bisnis dan proses produksi belum banyak mengalami perubahan.
Perbandingan dengan Survei Sebelumnya
Jika dibandingkan dengan survei yang dilakukan pada tahun 2021, terdapat beberapa pergeseran signifikan. Salah satunya adalah penurunan kebutuhan modal awal untuk mendirikan media. Pada 2021, 60% media siber di Jakarta membutuhkan modal lebih dari Rp1 miliar, sementara pada survei kali ini, hanya 26,36% dari 220 media yang membutuhkan lebih dari Rp500 juta. Hal ini menunjukkan adanya perubahan dalam struktur biaya di industri media.
Selain itu, banyak media kini memanfaatkan platform seperti TikTok dan YouTube untuk menyebarkan konten, dengan 60,45% media telah menggunakan TikTok sebagai saluran distribusi. Sumber pendapatan utama juga mengalami perubahan, di mana iklan pemerintah kini menjadi salah satu sumber pemasukan dominan.
Kesimpulan
Transformasi yang diperlukan dalam bisnis media tidak hanya terfokus pada kehadiran di berbagai platform digital, tetapi juga penting untuk membangun hubungan yang bermakna dengan audiens. Tanpa adanya pembenahan dalam pengelolaan data dan proses kreatif, digitalisasi justru dapat memperburuk kondisi media, di mana pembaca sulit dipertahankan dan kualitas jurnalisme semakin terancam.




