Simbol Toleransi, Lampion Imlek dan Ramadan Hiasi Pasar Gede Solo
Sumber Foto: Kompas.com
Sosial

Simbol Toleransi, Lampion Imlek dan Ramadan Hiasi Pasar Gede Solo

SOLO, KOMPAS.com — Nuansa keberagaman terasa sangat kental di kawasan Pasar Gede Solo, Jawa Tengah, yang juga dikenal sebagai kawasan pecinan.

Di wilayah ini, dua etnis berbeda yakni Jawa dan Tionghoa hidup saling berdampingan.

Sebagai bentuk harmonisasi dan keberagaman, warga memasang ornamen khas berupa lampion Imlek dan lampion Ramadan secara bersamaan.

Ornamen tersebut menghiasi kawasan Pasar Gede hingga depan Plaza Balai Kota di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Ketua Panitia Bersama Imlek 2026, Sumartono Hadinoto, menjelaskan ornamen Imlek dan Ramadan yang terpasang berdampingan merupakan simbol kuatnya kebhinekaan.

Lampion merah menyala khas Tionghoa dipasang untuk menyambut tahun baru Imlek 2026, sementara lampion bernuansa muslim dipasang guna menyambut bulan suci Ramadan serta Lebaran.

"Senada dengan Imlek agar kebhinekaannya lebih bisa membranding Kota Solo," kata Sumartono saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Senin (16/2/2026).

Simbol Toleransi di Pusat Kota

Lampion yang terpasang terdiri dari berbagai bentuk, mulai dari 12 shio, dewa rejeki, hingga karakter kartun.

Di sela-sela lampion tersebut, terdapat lampion Ramadan berbentuk kubah masjid, menara, bedug, hingga bulan sabit.

Tidak hanya itu, terpasang pula miniatur Masjid Cheng Ho di Plaza Balai Kota dan miniatur Masjid Lautze di bundaran Gladag.

Sumartono mengatakan bahwa lampion Imlek akan tetap terpasang hingga 3 Maret 2026 sebelum nantinya digantikan sepenuhnya oleh lampion khas Ramadan hingga hari raya Idul Fitri.

Kolaborasi ornamen ini tidak lepas dari peran Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, mengingat waktu jatuhnya Imlek dan awal Ramadan tahun ini berdekatan.

Ketua Yayasan Kelenteng Tien Kok Sie Solo, Sumantri Dana Waluya, menjelaskan bahwa Solo merupakan kota pertama di Indonesia yang memelopori pemasangan lampion Imlek secara terbuka sejak 2005.

Pada awalnya, hanya ada 80 lampion yang terpasang, namun kini jumlahnya telah mencapai 5.000 lampion.

Kebebasan berekspresi ini menurut Sumantri merupakan buah dari perjuangan panjang sejak masa Reformasi, mulai dari kebijakan Presiden BJ Habibie, keberanian Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut larangan budaya Tionghoa, hingga kebijakan Presiden Megawati Soekarnoputri yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Solo, KH Muhammad Mashuri, menilai momen ini sebagai bukti harmonisasi umat beragama yang nyata di Solo.

Menurutnya, kesediaan untuk berbagi ruang publik bagi simbol-simbol agama dan budaya yang berbeda menunjukkan kedewasaan masyarakat.

"Biasanya satu untuk Imlek saja, untuk Ramadan, Ramadan aja. Tapi ini kita diminta untuk berbagi dan itu sudah menjadi hal biasa. Insyaallah di Solo di level tokoh maupun di level umat beragama tidak ada masalah dan justru ini menjadi hal yang menarik," tutur Mashuri.

FKUB Kota Solo berkomitmen terus memberikan edukasi mengenai toleransi hingga tingkat kelurahan. Program pada tahun 2026 ini menyasar tokoh masyarakat, tokoh agama, serta aparatur sipil negara (ASN) di wilayah terkecil agar kerukunan tidak hanya terjadi di tingkat elit, tetapi juga mengakar kuat di tengah umat.