Selat Hormuz: Jalur Energi Global yang Rentan
Sumber Foto: Tempo.co
Internasional

Selat Hormuz: Jalur Energi Global yang Rentan

Ruang Press - Perbesar

Selat Hormuz dari luar angkasa, 21 Juli 2019. Terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, Selat Hormuz adalah chokepoint maritim paling strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang melayani pengiriman sekitar 20 juta barel minyak per hari—setara seperlima pasokan global—serta menyalurkan 20 persen gas alam cair (LNG) dunia. Shutterstock

Selat Hormuz, 10 April 2017. Selat ini memiliki lebar hanya sekitar 33 kilometer (21 mil) pada titik tersempitnya. Namun, jalur pelayaran aman untuk kapal tanker di kedua arah hanya selebar 3 kilometer. Kondisi geografis ini menjadikannya sangat rentan terhadap gangguan keamanan maupun penutupan jalur pelayaran global. Shutterstock

Armada kapal fregat Iran di Selat Hormuz, 10 Januari 2020. Secara geografis, Iran mengendalikan sisi utara selat ini dengan kehadiran militer yang kuat, termasuk penguasaan atas delapan pulau strategis. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara rutin melakukan unjuk kekuatan di wilayah perairan tersebut. Shutterstock

Iran Menutup Selat Hormuz, 2 Maret 2026. Selat Hormuz kembali menjadi pusat ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Langkah ekstrem Iran menutup selat ini—sebagai respons atas serangan militer gabungan AS-Israel pada akhir Februari 2026—berisiko memicu krisis ekonomi global. Shutterstock

Perbesar

Kapal tanker raksasa yang mengangkut minyak mentah dan produk petroleum di Selat Hormuz, 16 Mei 2025. Setiap gangguan, ancaman penutupan, maupun insiden kapal tanker di selat ini akan memicu lonjakan tajam harga minyak mentah Brent secara global akibat kekhawatiran pasar atas terhentinya pasokan energi dunia. Shutterstock

Peta Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya, 4 Februari 2025. Tercatat lebih dari 85% ekspor minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia. Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan merupakan importir terbesar yang akan paling terdampak jika terjadi gangguan di jalur maritim strategis ini. Shutterstock

selat-hormuz