Penutupan Kilang Saudi Aramco Picu Lonjakan Harga Energi Global
Ruang Press - Kilang minyak raksasa energi ditutup
Selain penutupan Selat Hormuz, lonjakan harga energi membayangi seiring ditutupnya kilang minyak milik raksasa energi energi dunia, Saudi Aramco. Melansir Bloomberg, Saudi Aramco, resmi menghentikan operasi kilang minyak Ras Tanura yang memiliki kapasitas produksi 550.000 barel per hari (bpd). Penghentian ini dilakukan sebagai respons atas serangan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan fasilitas strategis di pesisir Teluk Persia, memunculkan kekhawatiran baru terhadap keamanan pasokan energi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa penutupan sementara tersebut merupakan langkah antisipatif untuk memungkinkan evaluasi menyeluruh atas potensi kerusakan. Mengutip Saudi Press Agency, serangan drone berhasil dicegat, namun serpihan yang jatuh memicu kebakaran “terbatas” yang diklaim telah segera dikendalikan.
Keputusan Aramco menghentikan aktivitas salah satu kompleks penyulingan terbesar di dunia itu langsung mengguncang pasar komoditas. Ras Tanura dikenal sebagai pemasok utama solar (diesel) ke Eropa. Penutupan fasilitas tersebut mendorong lonjakan kontrak berjangka gasoil lebih dari 20 persen dalam seharim kenaikan harian terbesar sejak Maret 2022. Sementara itu, harga minyak mentah Brent tercatat naik sekitar 9 persen, mendekati level US$79 per barel di perdagangan London. Hingga kini, manajemen Aramco belum menyampaikan pernyataan resmi terkait perkiraan lamanya penghentian operasional tersebut.
Menilik dari awal tahun, harga telah melonjak sekitar 25 persen. Namun sebagai konteks, tahun ini dibuka dengan level harga terendah sejak pandemi akibat kelebihan pasokan global dan relatif minimnya gangguan geopolitik. Konsumen kini mengamati potensi dampak lanjutan terhadap harga bahan bakar di SPBU. Rata-rata nasional harga bensin reguler tanpa timbal sempat menyentuh level terendah dalam beberapa tahun di US$2,73 per galon pada awal tahun. Kini harga telah naik ke US$2,96 dan terus meningkat, sehingga diperkirakan akan menembus ambang US$3 per galon dalam waktu dekat, menurut Patrick De Haan, kepala analisis perminyakan di GasBuddy.
“Dalam sepekan ke depan, harga bensin kemungkinan akan menghadapi tekanan kenaikan yang lebih tinggi seiring tren musiman berlanjut dan pasar menavigasi lanskap geopolitik yang terus berkembang ini, dengan rata-rata nasional siap mencapai angka US$3 per galon untuk pertama kalinya tahun ini,” ujar De Haan.
Dampak terhadap harga gas alam di AS relatif terbatas, mengingat negara tersebut merupakan produsen gas terbesar di dunia. Namun Eropa dan Asia sangat bergantung pada pasokan dari Qatar dan negara lain, terutama di wilayah yang masih mengalami musim dingin. Harga gas alam di Eropa melonjak hampir 50 persen pada 2 Maret. Risiko tetap ada bahwa Iran, dalam kondisi terdesak, dapat melancarkan serangan lebih agresif terhadap kapal tanker minyak atau aset energi milik Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Para analis mengingatkan, selama infrastruktur energi tetap menjadi target dalam konflik ini, gejolak harga di pasar global berpotensi bertahan pada level tinggi dalam jangka pendek.




