Sekolah Kristen Lentera Ambarawa Rayakan Imlek dengan Nilai Toleransi dan Kebhinekaan
Abdul Sakur 19 Februari 2026
KABUPATEN SEMARANG [Berlianmedia]– Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Sekolah Kristen Lentera Ambarawa (SKL) bukan sekadar seremoni budaya, melainkan momentum edukasi dan advokasi keberagaman di lingkungan sekolah, Rabu (18/2).
Mengusung tajuk “LENTERA Chinese New Year Celebration”, kegiatan yang digelar di Selasar Lentera pukul 08.00–12.00 WIB itu, menjadi ruang pembelajaran nyata tentang toleransi, inklusivitas dan penghargaan atas perbedaan.
Koordinator SKL, Silvy Inawati, S.Si., M.Div. menegaskan, bahwa perayaan ini dilandasi semangat kebhinekaan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Di tengah keberagaman suku, budaya dan agama yang ada di SKL, sekolah ingin memastikan setiap identitas mendapatkan ruang yang sama untuk dikenalkan dan dihargai.
“Meski kami sekolah Kristen, kami tidak menonjolkan satu agama atau satu suku saja. Di sini ada Jawa, Batak, Tionghoa, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Papua. Seluruh agama juga ada. Karena itu, kami ingin anak-anak belajar menghormati dan menghargai perbedaan sejak dini,” terang Silvy.
Baca Juga: Wagub Jateng Terima Utusan Melaka, Perkuat Kerja Sama Industri dan Pendidikan
Edukasi Multikultural Sejak Dini
Perayaan Imlek 2026 diikuti seluruh siswa mulai dari PAUD/TK, SD, hingga SMP. Acara diawali parade fashion show dan Lomba “Pemilihan Cici Koko SKL” yang sarat nuansa budaya Tionghoa.
Seluruh peserta, baik siswa, guru, karyawan, hingga paguyuban orangtua, tampil mengenakan busana bernuansa merah, sebagai simbol sukacita dan harapan. Khusus siswa SMP, digelar Lomba Masak dan Lomba Membuat Lampion, sebagai media pengenalan tradisi serta nilai gotong royong dan kreativitas.
Kegiatan juga dimeriahkan maskot “Lovely Bear” yang diperankan salah satu guru, menambah suasana hangat dan penuh kebersamaan. Namun lebih dari sekadar lomba dan kemeriahan, perayaan ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual tentang keberagaman budaya Tionghoa di Indonesia.
Anak-anak tidak hanya mengenal simbol dan tradisi, tetapi juga memahami makna persaudaraan, rasa syukur dan kebersamaan yang menjadi inti perayaan Imlek.
Baca Juga: Kawal Pesta Demokrasi, Pemkot Semarang Siapkan Antisipasi Konflik Pemilu
Seluruh pembiayaan kegiatan ditanggung pihak sekolah sebagai bentuk komitmen terhadap pendidikan inklusif. Meski demikian, Paguyuban Orangtua Siswa tetap dilibatkan secara aktif melalui persembahan makanan dan snack dalam perjamuan kasih bersama, tanpa pungutan dana.
Model kolaborasi ini dinilai sebagai praktik baik (best practice) dalam membangun ekosistem pendidikan partisipatif dan non-diskriminatif. Orangtua siswa, Ibu Widi, mengaku bangga karena paguyuban benar-benar “diuwongke” atau dihargai keberadaannya.
“Kami merasa dilibatkan tanpa dibebani. Ini membuat kami semakin percaya dan bangga dengan SKL,” ujarnya.
Perayaan ini juga sejalan dengan visi sekolah untuk membimbing generasi muda menjadi pribadi unggul dalam iman, karakter, dan IPTEK, serta mampu berprestasi di era global tanpa kehilangan pijakan pada budaya bangsa.
Melalui perayaan Imlek yang sederhana namun bermakna ini, SKL Ambarawa menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang advokasi nilai-nilai kebangsaan, menguatkan toleransi, merawat keberagaman, dan menyiapkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter di tengah masyarakat majemuk Indonesia.
Mari Berbagi:
Post Tags: ##Berlianmedia_Perekat_Bangsa #berlianmedia




