Satu Meja, Satu Rasa: Irfendi Arbi Kembali ke Tengah Keluarga Pers
KUPASONLINE.COM - Suasana hangat menyelimuti pelataran Masjid Musafir, Kelurahan Kubu Gadang, Kecamatan Payakumbuh Barat, pada Rabu, 11 Maret 2026. Saat waktu berbuka puasa tiba, Irfendi Arbi, mantan pemimpin Kabupaten Limapuluh Kota, duduk bersila di tengah para jurnalis, merajut kembali kedekatan yang terjalin selama bertahun-tahun.
Pertemuan ini bukan sekadar ajang formalitas, melainkan merupakan momen berharga bagi seorang sahabat yang kembali ke tengah keluarga besar para pencatat peristiwa. Bagi wartawan di Luak Limopuluah, Irfendi Arbi bukan hanya seorang tokoh masyarakat, tetapi juga sosok yang selalu siap mendengarkan dan memberikan dukungan.
Koordinator Balai Wartawan Luak Limopuluah, Aking, mengungkapkan betapa spesialnya pertemuan tersebut. "Irfendi adalah personifikasi kerendahan hati. Hubungan ini tidak terbentuk dalam semalam, melainkan terjalin melalui keringat dan cerita bertahun-tahun di lapangan. Sore ini, kita merayakan persaudaraan yang kokoh," ujarnya dengan penuh haru.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Payakumbuh–Limapuluh Kota, Aspon Dedi. Ia merasakan adanya rasa rindu yang terobati saat melihat Irfendi tertawa dan bercengkerama dengan rekan-rekan wartawan di meja yang sama. "Beliau sudah seperti bagian dari komunitas pers di sini. Silaturahmi yang tulus tidak akan pernah pudar oleh waktu," katanya.
Saat azan Maghrib berkumandang, suasana menjadi semakin syahdu. Di bawah atap sederhana Masjid Musafir, mereka berbagi takjil dan doa, sementara perbincangan mengalir dengan tenang, diwarnai sesekali tawa yang menghangatkan suasana malam.
Momen tersebut mengingatkan publik akan adanya ruang-ruang kemanusiaan yang hangat di balik kerasnya dunia informasi. Di Luak Limopuluah, harmoni antara tokoh masyarakat dan pers bukan sekadar slogan, melainkan bagian dari kehidupan yang saling mendukung, terlebih di bulan suci Ramadan.
Di sela-sela berbuka puasa yang sederhana, Irfendi Arbi tampak terharu. Ia sesekali menyeka sudut matanya, merasa emosional melihat wajah-wajah lama yang masih setia mendampinginya dalam perjalanan hidupnya.




