Rusia Serukan Penghentian Konflik Timur Tengah dan Tolak Koalisi AS di Selat Hormuz
Ruang Press - Pemerintah Rusia menyerukan penghentian segera konflik di Timur Tengah dan mendorong penyelesaian melalui jalur diplomatik. Seruan ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat, terutama terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Awal Kejadian
Konflik di kawasan tersebut memanas sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Teheran dan sejumlah kota di Iran. Serangan ini mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer dan warga sipil.
Perkembangan
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah. Dalam konteks ini, Maria Zakharova, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, menegaskan bahwa solusi untuk memulihkan navigasi di Selat Hormuz harus dicari melalui perundingan, bukan kekuatan militer. Ia juga memperingatkan bahwa negara-negara yang bergabung dalam koalisi yang diusulkan oleh AS untuk mengawal kapal di Selat Hormuz bisa dianggap sebagai pihak dalam konflik.
Kondisi Terakhir
Donald Trump, Presiden AS, sebelumnya meminta sekutu untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Namun, sebagian besar sekutu AS dilaporkan menolak permintaan tersebut. Zakharova kembali menegaskan bahwa operasi militer AS dan Israel terhadap Iran tidak memiliki dasar yang jelas dan mendesak penghentian permusuhan serta peralihan ke jalur politik dan diplomatik.




