Ruang Press - Mantan jurnalis harian Bernas, Willy Pramudya, membagikan pengalamannya mengenai represi dan sensor media pada masa Orde Baru dalam sebuah diskusi bertajuk 30 Tahun Kudatuli di Kedai Tempo, Jakarta Timur.
Willy menyoroti larangan terhadap media untuk menggunakan nama Megawati Soekarnoputri. Dalam diskusi tersebut, ia menceritakan bahwa wartawan dilarang menyebut nama Megawati dan diarahkan untuk menggunakan nama Megawati Taufiq Kiemas. Para jurnalis dikumpulkan di sebuah hotel dekat Tanah Abang untuk mendapatkan pengarahan mengenai hal ini.
Tekanan dari rezim Orde Baru berujung pada praktik sensor mandiri di kalangan wartawan. Willy menyatakan bahwa ketentuan ini membuat mereka terpaksa mengubah cara penulisan agar sesuai dengan arahan yang diberikan. Selain itu, ia mengenang intimidasi yang sering terjadi, di mana pihak militer, khususnya Kapendam Jaya saat itu, Panggih, kerap mengunjungi ruang redaksi untuk melakukan pemeriksaan langsung terhadap komputer jurnalis.