Reisa Broto Asmoro: Mengutamakan Misi Kemanusiaan dalam Karier dan Kehidupan Keluarga
Sumber Foto: ANTARA News Sumsel
Ruang Redaksi

Reisa Broto Asmoro: Mengutamakan Misi Kemanusiaan dalam Karier dan Kehidupan Keluarga

Jakarta - Reisa Broto Asmoro, seorang dokter dan aktivis kemanusiaan, berbagi pandangannya tentang perjalanan karier dan komitmennya terhadap misi kemanusiaan dalam sebuah diskusi di Ruang Redaksi ANTARA, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan pentingnya restu keluarga dan dampak positif dari setiap keputusan yang diambil. "Restu Mama dan keluarga adalah yang terpenting. Aku boleh mengejar cita-cita, boleh mengejar karier, mencari uang, tapi harus dipastikan, apakah keputusan itu ada manfaat untuk orang lain?" ungkapnya.

Perempuan kelahiran Malang pada 28 Desember 1985 ini mengawali kariernya setelah lulus dari pendidikan kedokteran di Universitas Pelita Harapan. Namun, perjalanan menuju gelar dokter spesialis tidaklah mudah. Reisa menghadapi tantangan ketika syarat pengalaman sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT) di daerah terpencil yang dihapuskan oleh pemerintah pusat.

"Dokter PTT ditiadakan dan diganti dengan uji kompetensi. Ternyata pengalaman sebagai dokter PTT itu menjadi salah satu persyaratan dasar saya waktu mau mendaftar sebagai dokter spesialis. Tiga kali coba, tapi gagal," jelasnya. Meskipun menghadapi kegagalan, Reisa tetap optimis dan percaya bahwa setiap penutupan pintu akan membawa peluang baru.

Pada tahun 2010, ia berpartisipasi dalam kontes Puteri Indonesia mewakili Provinsi Yogyakarta dan berhasil meraih posisi juara kedua. "Kok enggak juara satu juga, kenapa ya saya gak boleh maju ke Miss Universe. Sedih, tapi tetap saya jalani. Oh, ternyata saya harus lebih banyak terjun di lingkungan," kenangnya.

Pengalaman bekerja dengan berbagai komunitas lingkungan, seperti Jakarta Kebun dan Indonesia Berkebun, memberikan Reisa kepuasan yang lebih besar dalam melayani masyarakat dibandingkan terlibat dalam ajang kecantikan. Selanjutnya, Reisa berkiprah di bidang forensik, bergabung dengan Disaster Victim Identification (DVI) di RS Polri Raden Said Soekanto, dan terlibat dalam investigasi korban kecelakaan serta kasus kekerasan.

"Lebih mudah menyampaikan berita visum kematian ketimbang saya harus menyampaikan kabar duka kepada keluarga, bahwa salah satu korban tewas berdasarkan tes DNA adalah keluarga mereka," ujarnya. Pengalaman tersebut membuatnya sering merenung tentang kekejaman yang dialami para korban.

Reisa juga aktif di dunia media sebagai host acara kesehatan dan menjadi anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Ia merasa profesi ini sangat bermakna dan membantu meningkatkan kesadaran masyarakat.

Dalam kehidupan pribadi, Reisa menikah dengan Kanjeng Pangeran Tedjodiningrat Broto Asmoro pada November 2012. Ia menekankan pentingnya tanggung jawab keluarga dalam kehidupannya. "Setiap ada pekerjaan baru, saya pasti minta tanggapan beliau (suami). Sebelum saya bekerja di luar, saya harus pastikan seluruh keluarga saya sudah terurus dulu," tuturnya.

Reisa memiliki kesepakatan untuk bekerja dari pukul 09.00 hingga 19.00 WIB di hari kerja, sementara waktu di luar jam kerja diisi dengan kegiatan keluarga. Hari Minggu dijadwalkan sebagai hari keluarga, di mana mereka menikmati waktu bersama dengan menonton film. Salah satu film yang mereka tonton adalah "Raya and the Last Dragon," yang menonjolkan nilai-nilai budaya dan persatuan.

Keinginan Reisa setelah pandemi adalah melakukan perjalanan ke luar negeri bersama keluarganya. "Sebab dari 34 provinsi di Indonesia, hanya Aceh saja yang belum pernah saya kunjungi," ungkapnya. Raja Ampat di Papua Barat menjadi salah satu destinasi wisata domestik yang paling berkesan bagi Reisa dan keluarganya.