PWI Menggelar Tasyakuran Usai Kembali Berkantor di Gedung Dewan Pers
Sumber Foto: ANTARA News Jambi
Meja Pers

PWI Menggelar Tasyakuran Usai Kembali Berkantor di Gedung Dewan Pers

Jakarta – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menggelar acara tasyakuran sebagai kegiatan perdana di kantor baru mereka yang terletak di lantai 4 Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, pada hari Jumat. Acara ini dihadiri oleh pengurus PWI Pusat periode 2025-2030 yang dipimpin oleh Akhmad Munir.

Tasyakuran ini menjadi simbol kembalinya organisasi wartawan tertua di Indonesia ke “rumah lama” mereka setelah satu tahun mengalami kekosongan. Akhmad Munir, Ketua Umum PWI Pusat, menjelaskan bahwa momen ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga merupakan bagian dari ruwatan, sebuah ikhtiar spiritual untuk melancarkan perjalanan PWI ke depan.

“Kami niatkan agar jalannya kepengurusan PWI Pusat 2025-2030 dilancarkan, diridhoi, dan selalu senantiasa mendapat hidayah dari Allah Subhanahu wa ta'ala,” ungkap Munir di acara tersebut.

Dalam kesempatan ini, PWI juga memberikan santunan kepada 72 anak yatim piatu dari Yayasan Al-Hikmah dan Yayasan Harun Ar-Rasyid. Acara dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh Dr. Firdaus Turmudzi, yang mengingatkan pentingnya bersyukur atas setiap hikmah yang diberikan.

“Mudah-mudahan profesi ini adalah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta'ala,” harapnya, menambahkan bahwa doa dari anak-anak yatim akan memiliki kekuatan tersendiri.

Acara yang berlangsung penuh khidmat ini menandai babak baru bagi PWI setelah setahun ruangan lantai 4 Gedung Dewan Pers terpaksa kosong akibat surat keputusan Dewan Pers yang melarang PWI menggunakan kantornya menyusul adanya dualisme kepengurusan.

Namun, pada tanggal 25 September, Dewan Pers yang kini dipimpin oleh Komaruddin Hidayat menyerahkan kembali kunci kantor kepada pengurus PWI. Komaruddin mengungkapkan rasa lega melihat PWI dapat kembali beraktivitas di tempat yang selama ini menjadi pusat kegiatan mereka.

“Lantai 4 seperti ruang horor bila dibiarkan kosong. Kami lega akhirnya PWI bisa kembali beraktivitas di sini,” ujarnya.

Akhmad Munir menegaskan bahwa kembalinya PWI ke gedung ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga simbol kebangkitan untuk berkontribusi lebih besar terhadap pers nasional. Ia menambahkan bahwa program-program seperti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan Sekolah Jurnalistik Indonesia perlu segera dijalankan untuk menghasilkan wartawan berintegritas.

“Pers yang kuat, sehat, dan beretika hanya bisa dibangun lewat wartawan yang kompeten. Itulah tugas besar PWI ke depan,” tutupnya.