Prajurit TNI Bangun Gereja untuk Warga Pedalaman Nunukan
NUNUKAN, KOMPAS.com – Di ujung utara Kalimantan, di sebuah pemukiman yang sunyi di Desa Sanur, Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, sebuah bangunan sederhana kini berdiri tegak.
Dindingnya masih tampak baru. Kayunya tercium segar. Di situlah Gereja Jemaat Eben Haezer akhirnya terwujud—mimpi lama warga yang kini menjelma nyata.
Gereja itu tak lahir dari kontraktor besar atau proyek berbulan-bulan.
Ia dibangun dari keringat para prajurit TNI Satgas Pengamanan Perbatasan RI–Malaysia dari Yonkav 13/Satya Lembuswana yang bertugas menjaga perbatasan negara.
Mimpi Lama yang Akhirnya Terwujud
Bagi sekitar 50 kepala keluarga atau 190 warga Toraja di SP 1 Desa Sanur, memiliki gereja sendiri adalah harapan yang lama disimpan.
Selama ini mereka menumpang ibadah di gereja lain, atau melaksanakan kebaktian dari rumah ke rumah demi menjalankan ritual keagamaan yang tak bisa dilakukan di sembarang tempat.
Tanah hibah sudah tersedia. Permohonan sudah diajukan. Namun membangun rumah ibadah di pedalaman bukan perkara mudah.
Camat Tulin Onsoi, Kristoforus Belake, masih mengingat betul momen ketika para prajurit datang.
“Selama ini mereka mengajukan permohonan tanah hibah ke Pemerintah Desa. Tanah ada, tinggal membangunnya. Datang Bapak-Bapak TNI, dikebut pembangunannya. Mereka roling siang malam,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Ia mengaku tak menyangka prosesnya begitu cepat. Jika memakai jasa tukang, pembangunan bisa memakan waktu hingga setengah tahun.
Namun para prajurit menyelesaikannya dalam waktu kurang dari dua bulan, bahkan dengan target rampung sebelum Ramadhan.
“Kami sangat berterima kasih atas kepedulian Bapak TNI kita. Kami melihat langsung bagaimana manunggal TNI bersama rakyat yang memperlihatkan sebuah toleransi justru memperkuat jalinan sosial dan rasa kasih sayang kami semua,” kata Kristo.
Siang Malam di Antara Kayu dan Rica-rica
Danki Pos Satgas Pamtas RI–Malaysia di Tembalang, Kapten Kav Vicky Reswandy, menuturkan pembangunan melibatkan prajurit dari empat pos perbatasan. Setiap pos menugaskan tiga orang yang bekerja bergantian, siang dan malam.
“Kita tugaskan masing-masing pos tiga prajurit. Kita roling siang malam, dan kita bersyukur kita mampu menyelesaikan sesuai batas waktu yang kita targetkan,” ujarnya melalui sambungan telepon.
Membangun dari nol berarti mengerjakan segalanya sendiri. Balok-balok kayu digergaji langsung oleh para prajurit, diubah menjadi papan, tiang, hingga reng atap.




