Pesta Media 2026: Suara Perempuan dan Krisis Iklim di Hutan Papua
Sumber Foto: Mongabay.co.id
Ruang Redaksi

Pesta Media 2026: Suara Perempuan dan Krisis Iklim di Hutan Papua

Pesta Media AJI Jakarta 2026 yang dibuka di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, pada tanggal 11 April 2026, menyoroti pentingnya suara perempuan dalam menghadapi krisis iklim. Acara ini berlangsung selama dua hari dengan tema "Facing for Future, Collaboration for Our Nature".

Dalam pembukaannya, Irsyan Hasyim, Ketua AJI Jakarta, menyatakan bahwa acara ini merupakan momentum kolaborasi untuk mengatasi tantangan yang dihadapi akibat krisis iklim. Dia menegaskan bahwa isu lingkungan merupakan salah satu tantangan paling mendesak yang dihadapi oleh jurnalis saat ini.

Perempuan dalam Jurnalisme dan Krisis Iklim

Dalam talkshow bertajuk "Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan", para jurnalis perempuan seperti Nany Afrida, Evi Mariani, dan Sapariah Saturi membahas bagaimana pengalaman dan perspektif mereka dalam melaporkan krisis iklim berbeda dari jurnalis laki-laki. Nany Afrida, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, menyoroti bahwa proporsi jurnalis perempuan di Indonesia masih rendah, yaitu sekitar 21,5%, yang mencerminkan ketimpangan dalam industri media.

Dia menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi oleh jurnalis perempuan bersifat sistemik, termasuk diskriminasi, kekerasan berbasis gender, dan beban kerja ganda yang sering kali dihadapi. Situasi ini, menurut Nany, membuat jurnalis perempuan tidak hanya berjuang untuk menyampaikan kebenaran, tetapi juga untuk mempertahankan ruang aman bagi diri mereka.

Dalam konteks yang lebih luas, Sapariah Saturi menekankan bahwa keberadaan jurnalis perempuan sangat penting untuk menggali isu-isu yang mungkin terlewatkan, seperti dampak kekerasan seksual dan krisis iklim yang mempengaruhi perempuan secara khusus. Dia mengungkapkan bahwa perspektif perempuan dalam jurnalisme mampu menjangkau narasumber yang selama ini tidak terdengar.

Suara Perempuan Adat di Hutan Papua

Pembicaraan tentang perempuan tidak hanya terbatas pada ruang redaksi. Dalam diskusi "Suara Perempuan Adat, Masa Depan Hutan Papua", Marice Sianggo dari sub-suku Nakna berbicara tentang hubungan antara manusia dan alam. Bagi Marice, hutan adalah bagian integral dari kehidupan mereka, menyimpan sejarah dan identitas. Dia menyatakan, "Hutan itu mama," menegaskan pentingnya keberadaan hutan bagi kehidupan perempuan adat.

Fitri Hasibuan, Vice President Program Konservasi Indonesia, menambahkan bahwa hutan Papua memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem global. Namun, upaya konservasi harus menghormati hak masyarakat adat, termasuk hak atas tanah dan pengetahuan lokal.

Pentingnya Jurnalisme Konstruktif

Jurnalis Margareth Aritonang juga mencatat bahwa narasi tentang Papua sering kali didominasi oleh perspektif negara atau elit, sementara peran perempuan adat dalam menjaga hutan jarang terangkat. Dia menyerukan pendekatan jurnalisme yang konstruktif, yang tidak hanya berfokus pada konflik tetapi juga pada ketahanan dan pengetahuan lokal.

Dengan demikian, Pesta Media AJI Jakarta 2026 berupaya membuka ruang bagi kolaborasi antara jurnalis, aktivis, akademisi, dan masyarakat untuk menghadapi krisis iklim. Setelah 14 tahun tidak diadakan, forum ini kembali dengan harapan dapat memberikan dampak yang lebih luas dan mendukung agenda serupa di masa mendatang.

Kegiatan dan Diskusi Pesta Media

Pesta Media ini menyajikan berbagai kegiatan, termasuk diskusi, pameran foto, lokakarya, dan pemutaran film. Topik yang dibahas mencakup kerentanan jurnalis perempuan, perlindungan satwa liar, pengelolaan sampah, dan isu-isu lingkungan lainnya. AJI Jakarta juga mengadakan lokakarya khusus untuk meningkatkan kemampuan jurnalis dalam bidang personal branding dan jurnalisme solusi.

Dengan berbagai kegiatan ini, Pesta Media diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang memperkuat suara perempuan dan masyarakat adat dalam menghadapi tantangan lingkungan dan sosial di Indonesia.