Pertamina Drilling Perkuat Peran Migas dalam Transisi Energi Global
Jakarta (beritajatim.id) – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dinilai masih akan memainkan peran kunci dalam memenuhi kebutuhan energi global, meskipun dunia tengah bergerak menuju transisi energi rendah karbon. Hal ini ditegaskan Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia, Avep Disasmita, dalam Scope Upstream Excellence Forum yang digelar di Grha Pertamina, Jakarta.
Menurut Avep, kebutuhan energi dunia saat ini dan ke depan akan ditentukan oleh dua faktor utama, yakni keamanan energi (energy security) dan dekarbonisasi. Kedua aspek tersebut membentuk dinamika industri energi global, termasuk arah pengembangan sektor migas.
Mengacu pada OPEC World Oil Outlook 2025, proyeksi menunjukkan bahwa hingga tahun 2050 sekitar 50 persen kebutuhan energi global masih bergantung pada minyak dan gas bumi, meskipun porsi energi baru dan terbarukan (EBT) terus mengalami peningkatan. Kondisi ini menegaskan posisi migas sebagai tulang punggung pasokan energi dunia dalam jangka panjang.
Strategi Ganda Hadapi Tantangan Global
Dalam menghadapi perubahan lanskap energi, Pertamina Drilling mengadopsi strategi pertumbuhan ganda (dual-growth strategy). Strategi ini tidak hanya berfokus pada optimalisasi kegiatan eksplorasi dan produksi migas secara efisien dan berkelanjutan, tetapi juga mulai merambah sektor dekarbonisasi.
Sejumlah inisiatif yang dikembangkan antara lain penerapan green drilling, keterlibatan dalam proyek panas bumi (geothermal), serta pengembangan teknologi carbon capture, storage, and sequestration (CCS). Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari upaya mendukung agenda transisi energi tanpa mengabaikan kebutuhan energi saat ini.
Peran Strategis Migas bagi Indonesia
Dari sisi nasional, tren kebutuhan energi Indonesia dinilai masih sejalan dengan kondisi global. Proyeksi menunjukkan pertumbuhan kebutuhan energi nasional hingga 2034 mencapai sekitar 5 persen per tahun. Dalam periode tersebut, bauran energi masih didominasi oleh migas dan batu bara, meskipun kontribusi EBT terus meningkat secara bertahap.
Situasi ini memperkuat peran strategis industri jasa pengeboran dalam menjaga ketahanan energi dan mendukung target swasembada energi nasional. Perusahaan jasa migas dituntut untuk adaptif terhadap kebutuhan energi saat ini sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perubahan di masa depan.
Armada Rig dan Ekspansi Global
Saat ini, Pertamina Drilling mengoperasikan sekitar 57 rig, terdiri dari 53 rig onshore, dua rig offshore jenis jack-up, serta dua rig offshore workover yang beroperasi di wilayah perairan Jawa dan Sumatera. Perusahaan juga menjalin strategic alliance dengan ADES, perusahaan jack-up rig terbesar dari Timur Tengah, termasuk rencana operasi di wilayah Natuna.
Selain armada rig, Pertamina Drilling didukung lebih dari 110 unit jasa penunjang pengeboran, seperti directional drilling, fracturing, dan cementing. Dengan pengalaman panjang di sektor onshore, perusahaan ini tercatat sebagai salah satu pemilik armada rig darat terbesar di Asia Tenggara, dengan wilayah operasi dari Sumatera hingga Papua.
Sejalan dengan visi menjadi perusahaan jasa pengeboran dan energi kelas dunia berbasis one-stop solution dan integrated project management, Pertamina Drilling juga mulai melakukan ekspansi internasional ke Malaysia dan Timor Leste, serta menjajaki peluang kerja sama di kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Komitmen Perkuat Upstream Excellence
Forum Scope Upstream Excellence turut dihadiri sejumlah pimpinan Subholding Upstream Pertamina, di antaranya Direktur Pengembangan dan Produksi PT Pertamina Hulu Energi Mery Luciawaty, Direktur SDM dan Penunjang Bisnis PHE Eri Sulistyo Sutikno, serta Direktur Utama PT Elnusa Tbk Litta Indriya Ariesca.




