Perdebatan Wall Street: Komputasi Kuantum dan Masa Depan Bitcoin
Sumber Foto: IDNFinancials
Teknologi

Perdebatan Wall Street: Komputasi Kuantum dan Masa Depan Bitcoin

JAKARTA - Perdebatan mengenai status bitcoin sebagai “emas digital” memasuki babak baru di Wall Street. Kali ini, bukan volatilitas harga yang menjadi pemicu, melainkan ancaman jangka panjang dari perkembangan komputasi kuantum terhadap keamanan jaringan bitcoin.

Dikutip cryptoslate.com, perbedaan pandangan mencuat dari dua tokoh strategi ternama yang kebetulan memiliki nama belakang sama. Christopher Wood dari Jefferies memutuskan keluar sepenuhnya dari bitcoin, sementara Cathie Wood dari ARK Invest justru menegaskan aset kripto tersebut tetap relevan dalam portofolio modern.

Pada 16 Januari, Christopher Wood menghapus alokasi bitcoin sebesar 10% dari portofolio model Jefferies. Dana tersebut dialihkan ke emas fisik dan saham tambang emas.

Keputusan ini didasari kekhawatiran bahwa komputasi kuantum suatu hari dapat merusak sistem kriptografi yang menjadi fondasi keamanan bitcoin, sehingga dinilai tidak cocok untuk modal jangka panjang seperti dana pensiun.

Kekhawatiran ini diperkuat oleh pandangan sejumlah pakar teknis. Pendiri Capriole, Charles Edwards, menilai Bbitcoin berpotensi diretas dalam 2 hingga 9 tahun tanpa pembaruan protokol, dengan risiko tertinggi dalam 4–5 tahun ke depan.

Ia menyebut pasar telah memasuki fase “Quantum Event Horizon”, di mana waktu yang dibutuhkan untuk mencapai konsensus peningkatan hampir setara dengan datangnya ancaman itu sendiri.

Namun, pelaku industri kripto besar menilai risiko tersebut belum mendesak. Grayscale menyebut isu kuantum sebagai ancaman jangka panjang yang kecil kemungkinannya memengaruhi harga dalam waktu dekat. Andre Dragosch dari Bitwise Europe juga menekankan bahwa kemampuan komputasi saat ini masih sangat jauh dari level yang dibutuhkan untuk menyerang jaringan bitcoin secara efektif.

Di tengah perdebatan tersebut, ARK Invest justru menegaskan posisi bitcoin sebagai alat diversifikasi portofolio. Dalam prospek 2026, Cathie Wood menyoroti korelasi bitcoin yang rendah dengan aset tradisional. Data ARK menunjukkan korelasi bitcoin dengan emas hanya 0,14 dan dengan obligasi 0,06, bahkan lebih rendah dibandingkan korelasi antara saham dan obligasi.

ARK memandang bitcoin bukan lagi sekadar “emas digital”, melainkan sumber imbal hasil yang tidak berkorelasi dengan potensi kenaikan asimetris. Pendekatan ini menempatkan bitcoin sebagai alat efisiensi portofolio, terlepas dari perdebatan teknologinya.

Dragosch juga mengingatkan bahwa sistem keuangan tradisional justru bisa lebih rentan terhadap ancaman kuantum.

Ia menyatakan, “Bank sangat bergantung pada kunci RSA/ECC yang berumur panjang untuk otentikasi dan komunikasi antar bank. Begitu mesin kuantum dapat memecahkan kunci-kunci ini, serangan sistemik menjadi mungkin jauh lebih awal daripada ancaman realistis apa pun terhadap arsitektur terdesentralisasi bitcoin.”

Pada akhirnya, perbedaan pandangan ini menegaskan bahwa narasi institusional tentang bitcoin semakin matang.