Peran Kecerdasan Buatan dalam Jurnalistik Televisi: Diskusi di Kompas TV
Sumber Foto: Kompas.tv
Ruang Redaksi

Peran Kecerdasan Buatan dalam Jurnalistik Televisi: Diskusi di Kompas TV

JAKARTA, KOMPAS.TV - Suasana ruang redaksi Kompas TV pada pertengahan Oktober 2025 mengalami perubahan yang signifikan. Dalam suasana tersebut, berlangsung sebuah diskusi terbuka antara Alexander Wibisono, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV, dan Prof. Dr. Monika Eigenstetter dari Hochschule Niederrhein, Jerman, yang didampingi oleh dua psikolog senior dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Dr. phil. Ratri Atmoko Benedictus, M.Psi., Psikolog, dan Puji Tania Ronauli, M.Psi., Psikolog.

Diskusi ini mengangkat tema mengenai perubahan dunia kerja jurnalis di era kecerdasan buatan (AI). Prof. Monika memulai pembahasan dengan menyoroti keterampilan baru yang diperlukan dalam interaksi manusia dengan AI, serta dampaknya terhadap profesi kreatif seperti jurnalisme dan kualitas investigasi berita.

Alexander menjelaskan bahwa Kompas TV telah memanfaatkan AI dalam proses pemberitaan, meskipun penggunaannya masih terbatas. Menurutnya, teknologi ini berperan dalam mempercepat kerja redaksi, yang mencakup penyusunan naskah singkat dan pemantauan tren informasi. Namun, ia menegaskan bahwa AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran jurnalis.

Pentingnya Keterampilan dan Adaptasi

Diskusi kemudian berfokus pada pentingnya pengembangan keterampilan baru di era AI. Alexander menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis, etika, dan empati tetap menjadi fondasi utama dalam jurnalisme. Ia menegaskan bahwa AI tidak dapat memberikan sentuhan rasa dan nilai kemanusiaan yang esensial dalam karya jurnalis.

Untuk menghadapi perubahan teknologi ini, Kompas TV melakukan proses adaptasi secara bertahap melalui komunikasi terbuka dan pelatihan berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar seluruh karyawan dapat memahami bahwa AI merupakan mitra, bukan ancaman. Kesiapan mental dan keterlibatan semua pihak dianggap penting untuk memastikan transisi yang lancar dan positif.

Di akhir pertemuan, Alexander menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan kualitas berita tetap ditentukan oleh manusia. Ia percaya bahwa teknologi dan kemanusiaan dapat berjalan beriringan untuk menciptakan jurnalisme yang cepat, cerdas, dan tetap relevan.

Prof. Monika mengapresiasi pendekatan Kompas TV yang tetap menempatkan nilai kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi. Diskusi tersebut diakhiri dengan tur singkat ke area kerja newsroom dan kunjungan ke Bentara Budaya Jakarta, yang merupakan tempat di mana seni dan budaya berpadu dengan semangat digitalisasi.