Ruang Press - Data terbaru dari Laporan Berita Digital 2026 Institut Reuters mengungkapkan bahwa media sosial dan platform video kini menjadi sumber akses berita paling populer, menggeser televisi dan situs web berita.
Pergeseran ini terjadi seiring dengan menurunnya kebiasaan membaca berita secara tradisional. Lebih dari sepertiga individu berusia 18-24 tahun mengaku tidak pernah secara teratur mengakses situs web berita atau menonton siaran berita televisi.
INMA mencatat bahwa jurnalisme harus menjawab pertanyaan terkait produk ruang redaksi saat ini, mengingat pembaca kini lebih tertarik pada individu di balik nama surat kabar. Sekitar 27% orang di seluruh dunia mendapatkan pembaruan berita mingguan dari kreator konten, dengan angka mencapai hampir 50% di negara-negara seperti Thailand dan Indonesia.
Di Prancis, saluran berita HugoDécrypte memiliki jangkauan lebih luas di kalangan generasi muda dibandingkan dengan media berita tradisional. Peneliti Reuters Institute, Nic Newman, menunjukkan bahwa individu kini menjadi merek dalam jurnalisme, dengan pengikut yang menghargai keandalan dan objektivitas mereka akibat transparansi yang ditawarkan.
INMA juga menekankan bahwa jurnalisme harus beradaptasi dengan kebutuhan pembaca, bukan semata-mata fokus pada produksi berita. Contoh dari Amedia, Bergens Tidende, dan Australian Community Media menunjukkan pentingnya memahami dan memenuhi kebutuhan pembaca dengan pendekatan baru dalam distribusi konten.
Kepercayaan tetap menjadi elemen kunci dalam jurnalisme, meskipun AI mulai merubah cara kerja ruang redaksi. Meskipun AI digunakan untuk mendukung proses produksi, semua konten tetap harus melalui kontrol kualitas dan tinjauan editor. INMA menegaskan bahwa kepercayaan terhadap merek surat kabar masih kuat di banyak negara, meskipun ada penurunan di AS akibat polarisasi politik. Jurnalisme perlu bertransformasi untuk membangun kepercayaan dan relevansi di era digital ini.