Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Global
Sumber Foto: Liputan6.com
Internasional

Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Global

Liputan6.com, Jakarta - Penutupan Selat Hormuz menjadi sorotan utama di tengah memanasnya konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) pada awal Maret 2026. Jalur strategis ini merupakan salah satu urat nadi energi dunia karena dilalui sekitar 20% pasokan minyak global setiap harinya.

Pengamat Komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai eskalasi militer yang terjadi telah memicu kekhawatiran serius di pasar.

“Kondisi geopolitik yang memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat pada awal Maret 2026 ini memang menciptakan guncangan signifikan pada pasar komoditas global,” ujarnya kepada Liputan6.com, Minggu (1/3/2026).

Menurutnya, potensi gangguan atau bahkan penutupan Selat Hormuz langsung tercermin pada lonjakan harga minyak dunia. Brent diproyeksikan dapat menembus USD 80 hingga USD 100 per barel apabila konflik berlanjut lebih dari dua pekan.

Sementara dalam skenario terburuk seperti blokade total atau serangan terhadap infrastruktur utama, harga minyak berpotensi melonjak hingga USD 120 per barel.

Pasar saat ini juga telah memasukkan premi risiko geopolitik dalam pembentukan harga, mencerminkan kekhawatiran akan terganggunya arus distribusi energi dari kawasan Teluk.

Selain minyak, dampak rambatan juga terlihat pada komoditas lain seperti emas yang menguat sebagai aset lindung nilai, serta gas alam cair (LNG) yang terancam terganggu pengirimannya.

“Situasi ini sangat cair dan sangat bergantung pada apakah konflik ini tetap terlokalisasi atau meluas menjadi perang regional yang lebih panjang,” ujarnya.

Jika penutupan Selat Hormuz benar-benar terjadi, tekanan tidak hanya dirasakan oleh negara eksportir dan importir minyak, tetapi juga berpotensi memicu lonjakan biaya logistik global, mempercepat inflasi, serta meningkatkan volatilitas di pasar keuangan internasional.

Iran Bergerak Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS dan Israel

Iran dilaporkan mengambil langkah untuk menutup Selat Hormuz menyusul serangan rudal yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu. Kapal-kapal di kawasan Teluk sudah menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Garda Revolusi Iran yang memperingatkan bahwa kapal tidak akan diizinkan melintasi jalur perairan strategis tersebut.

Dikutip dari Gulfnews, Sabtu (28/2/2026), Selat Hormuz yang terletak di Teluk Arab merupakan jalur pelayaran vital bagi sekutu Amerika Serikat dan pasar energi global. Ketegangan di kawasan ini meningkat tajam setelah serangan militer terhadap Iran.

Iran berada di sisi utara Selat Hormuz dan mengendalikan sejumlah titik akses utama menuju jalur tersebut. Posisi geografis ini memberi Teheran pengaruh besar terhadap lalu lintas energi dunia, termasuk ekspor minyaknya sendiri.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Angka tersebut menjadikan jalur ini sebagai salah satu arteri paling penting dalam perdagangan energi global.

Langkah Iran untuk membatasi atau menutup akses Selat Hormuz berpotensi memicu gejolak besar di pasar minyak dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dunia.