Pengungsi Nduga di Wamena Bangun Kembali Sekolah Darurat dan Honai di Pekarangan Gereja Weneroma
Wamena—Para pengungsi asal Kabupaten Nduga yang bertahan di Wamena, Jayawijaya, bersama relawan kemanusiaan Papua, membangun kembali sekolah darurat di pekarangan Gereja Weneroma, Sinakma. Perbaikan dilakukan agar kegiatan belajar anak-anak pengungsi tetap berjalan, di tengah kondisi tempat belajar yang sebelumnya kerap terkendala kerusakan.
Di lokasi, suara palu terdengar bersahutan dengan aktivitas belajar di ruang-ruang kelas. Para pengungsi membagi waktu antara bekerja memperbaiki bangunan sekolah dan mengikuti kegiatan belajar. Gotong royong melibatkan orang tua siswa hingga para siswa sendiri.
Asman, salah satu pengungsi, mengatakan mereka sedang memperbaiki bangunan karena atap mengalami kebocoran. Sekolah darurat itu sebelumnya hanya beralaskan terpal. Namun, terpal tersebut robek sebelum genap satu tahun digunakan.
Dengan dana bantuan dari berbagai pihak, relawan kemudian membangun sekolah darurat menggunakan bahan triplek dan seng. Sekolah ini disiapkan untuk menampung anak-anak pengungsi Nduga menyusul konflik di Nduga yang dipicu pembunuhan 19 karyawan pembangunan jalan Trans-Papua oleh kelompok OPM pimpinan Egianus Kogoya pada Desember 2018.
Jumlah siswa sempat ribuan
Menurut pengakuan relawan, pada masa puncaknya jumlah siswa di sekolah darurat tersebut sempat mencapai lebih dari dua ribu orang. Namun pada Agustus 2019, jumlah siswa yang terdaftar menyusut menjadi 883 siswa. Sebagian besar siswa disebut telah kembali ke kampung masing-masing karena situasi dinilai membaik.
Siswa ikut menjadi mandor
Dalam perbaikan bangunan, sejumlah siswa turut terlibat. Frelius Lumengge, siswa SMP kelas dua, terlihat menggergaji kayu dan disebut menjadi salah satu mandor perbaikan sekolah. Bersama timnya, ia bertugas memperbaiki meja dan kursi.
Meja dan kursi dibuat memanjang dengan penyangga yang ditancapkan langsung ke dalam tanah, sehingga tidak mudah digeser. Frelius menyampaikan alasan keluarganya mengungsi adalah karena situasi di kampung yang menurutnya telah dikuasai TNI. Ia juga mengaku senang bisa kembali bersekolah di Wamena.
Kekhawatiran soal masa depan anak muda
Pastor Johannes Jonga menilai sekolah darurat tersebut perlu dipertahankan untuk membina anak-anak muda Nduga. Ia menyampaikan kekhawatiran bahwa tanpa pembinaan, akan semakin banyak anak muda yang bersikap anti NKRI karena alasan sakit hati dan merasa nasibnya tidak diperhatikan negara.
Honai dibangun gotong royong
Selain sekolah, para pengungsi juga membangun honai—tempat tinggal tradisional masyarakat pegunungan tengah—secara gotong royong. Relawan Wene Tabuni mengatakan pembangunan honai memerlukan waktu enam hari, sementara persiapan bahan-bahan bangunan memakan waktu sekitar tiga minggu.
Di bagian tengah honai terdapat tungku api. Kayu bakar disusun berlapis di atas tungku, sehingga api cukup untuk menghangatkan ruangan sekaligus membantu mengeringkan kayu.
Secara struktur, patok-patok honai dihujamkan langsung ke tanah. Dindingnya dijalin dari ranting-ranting kayu yang dibentuk membulat. Honai tidak memiliki jendela untuk menjaga suhu di dalam tetap hangat. Udara berganti melalui pintu yang relatif kecil serta celah-celah dinding dari anyaman ranting.
Cuaca di Wamena dan sekitarnya disebut cukup dingin, berkisar 5 hingga belasan derajat Celcius. Di lahan pekarangan Gereja Weneroma yang luas—sekitar empat kali luas lapangan sepak bola—bangunan kelas sekolah darurat dan honai berdiri, sementara para pengungsi menatap masa depan yang belum jelas.
- Lokasi: Pekarangan Gereja Weneroma, Sinakma, Wamena
- Kegiatan: Perbaikan sekolah darurat dan pembangunan honai secara gotong royong
- Jumlah siswa: Pernah lebih dari 2.000; tercatat 883 pada Agustus 2019




