Pendekatan Berbeda dalam Adopsi Kecerdasan Buatan oleh Media Indonesia
Adopsi kecerdasan buatan (AI) dalam industri pers kini dianggap sebagai langkah yang tak terhindarkan. Media di Indonesia menunjukkan dua pendekatan yang berbeda dalam mengintegrasikan AI ke dalam ruang redaksi mereka. tvOne, misalnya, lebih fokus pada aspek 'branding', sementara Narasi mengutamakan substansi dalam jurnalisme mereka.
Dalam peringatan Hari Pers Nasional 2026 pada 9 Februari lalu, tema kecerdasan buatan menjadi sorotan utama sebagai teknologi yang esensial dalam transformasi digital media. Namun, muncul pertanyaan mengenai seberapa mendesak bagi ruang redaksi untuk mengadopsi AI, terutama di tengah berbagai tantangan seperti keterbatasan infrastruktur dan kapasitas sumber daya manusia.
Menurut organisasi jurnalis global, Reporters Sans Frontières (RWB), integritas informasi dan praktik jurnalisme mesti dijaga, terutama dalam era teknologi yang semakin berkembang. Mereka menekankan pentingnya nilai-nilai dasar seperti hak asasi manusia, perdamaian, dan demokrasi dalam praktik jurnalisme.
Studi terbaru menunjukkan bahwa pengembangan dan adopsi AI di media negara maju dan negara berkembang masih sangat timpang. Dalam konteks ini, tvOne dan Narasi memberikan gambaran tentang dua cara berbeda dalam mengintegrasikan AI ke dalam praktik jurnalisme mereka.
AI dalam Ruang Redaksi
Inovasi teknologi AI dianggap sebagai gelombang ketiga yang mengubah praktik jurnalisme, setelah internet dan media sosial. Penting untuk memahami perbedaan antara AI tradisional dan AI generatif, karena publik saat ini lebih mengenal AI generatif seperti ChatGPT.
Secara umum, jurnalis memanfaatkan AI dalam berbagai tahap proses berita, mulai dari pengumpulan hingga distribusi. AI nongeneratif, misalnya, digunakan dalam pengenalan karakter optik, konversi ucapan ke teks, dan penerjemahan otomatis, sedangkan AI generatif membantu dalam proses penulisan dan pengelolaan konten.
Perbedaan Pendekatan: tvOne vs. Narasi
Pada tahun 2023, tvOne mengklaim sebagai “media pertama berbasis AI” dengan peluncuran pembawa berita AI. Pendekatan ini tampak sebagai strategi branding untuk tetap bersaing dalam industri media yang semakin kompetitif. Namun, klaim tersebut lebih berfokus pada pencitraan ketimbang pemecahan masalah riil dalam jurnalisme.
Di sisi lain, Narasi mengadopsi AI dengan cara yang lebih substansial. Mereka menggunakan AI untuk mendukung jurnalisme data dan liputan investigatif, seperti dalam kolaborasi dengan Emotion Research Lab untuk proyek yang mengeksplorasi emosi publik. Narasi tidak mengklaim sebagai pelopor, tetapi lebih berfokus pada dampak yang dihasilkan dari liputan mereka.
Implikasi dan Tantangan
Riset menunjukkan bahwa pilihan untuk mengadopsi AI dalam jurnalisme Indonesia terletak pada keputusan kolektif dari redaksi dan pengelola media. Namun, penting untuk memahami bahwa penggunaan AI tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman tentang cara kerjanya dan risiko yang menyertainya.
Media harus mengawasi penggunaan AI agar tetap etis dan akuntabel. Mengingat AI dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat, jurnalis perlu terlibat dalam rantai produksi informasi untuk memastikan bahwa teknologi ini digunakan dengan bertanggung jawab dan sesuai dengan nilai-nilai jurnalisme.




