Ruang Press - Aktivitas industri bauksit di Kalimantan Barat membuka peluang pemanfaatan residu yang selama ini dianggap limbah, yaitu red mud, menjadi material bernilai ekonomi tinggi.
Kalimantan Barat memiliki sumber daya bauksit yang sangat besar, tercatat sekitar 2,07 miliar ton, dengan cadangan mencapai 840 juta ton. Hal ini menjadikan provinsi tersebut sebagai salah satu wilayah kunci dalam agenda hilirisasi mineral Indonesia.
Proses pemurnian bauksit menjadi alumina menghasilkan residu red mud dalam jumlah besar, di mana teknologi Bayer dapat memproduksi sekitar 1–1,5 ton red mud untuk setiap 1 ton alumina. Dengan kapasitas produksi alumina mencapai 1 juta ton per tahun, potensi residu yang perlu dikelola dapat mencapai sekitar 1–1,5 juta ton red mud per tahun jika seluruh kapasitas beroperasi penuh. Untuk itu, riset pemanfaatan red mud dianggap penting, dengan pendekatan ekonomi sirkular dan teknologi rendah emisi.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menegaskan bahwa Kalimantan Barat memiliki potensi mineral kritis terbesar di Indonesia, yang mendorong perluasan riset untuk mengubah limbah menjadi material bernilai tambah.