Pelatihan Jurnalisme Inklusif: Membangun Kesadaran Keberagaman di Kalangan Jurnalis Muda
Di utara Kota Bandung, sebanyak 20 orang muda mengikuti pelatihan bertajuk “Pelatihan Jurnalisme Inklusif untuk Pers Mahasiswa dan Jurnalis Muda” yang diselenggarakan selama dua hari, pada 22-23 Maret 2025. Lokakarya ini menjadi momentum penting bagi pers mahasiswa dan jurnalis muda untuk mendalami isu keberagaman sosial, sekaligus memperkuat hubungan antarpeserta melalui kegiatan berbuka puasa dan sahur bersama yang dilakukan selama bulan Ramadan.
Acara ini diselenggarakan oleh BandungBergerak bekerja sama dengan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID). Pelatihan ini menekankan pentingnya jurnalisme yang berperspektif keberagaman, terutama di tengah tantangan toleransi yang sering kali terganggu di Indonesia. Meskipun Bandung dikenal sebagai kota yang ramah terhadap hak asasi manusia, kasus pelanggaran terhadap keberagaman masih sering terjadi.
Pentingnya Jurnalisme Inklusif
Jurnalisme inklusif adalah pendekatan yang berusaha melibatkan semua suara dalam pemberitaan, terutama dari kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Ini termasuk aspek agama, ras, gender, orientasi seksual, dan status sosial-ekonomi. Tujuan dari jurnalisme inklusif adalah untuk memastikan setiap kelompok mendapatkan representasi yang adil, tanpa diskriminasi.
Kebanyakan berita yang kita konsumsi sehari-hari sering kali tidak mencerminkan realitas sosial secara adil. Kelompok-kelompok terpinggirkan, seperti minoritas agama dan gender, sering kali hanya diliput saat terjadi konflik. Hal ini memperburuk ketidakadilan dan perpecahan sosial. Jurnalisme inklusif hadir untuk melawan tren tersebut dengan menyajikan berita yang tidak hanya berfokus pada perbedaan, tetapi juga membangun pemahaman tentang keberagaman.
Peran Pers Mahasiswa dan Jurnalis Muda
Pers mahasiswa memiliki peran penting dalam membentuk opini publik, terutama di kalangan generasi muda. Sebagai bagian dari dunia pendidikan, mereka dapat menjadi ruang bereksperimen dengan ide-ide baru dan menyajikan sudut pandang yang berbeda dari media mainstream. Oleh karena itu, penting bagi pers mahasiswa untuk mengadopsi perspektif jurnalisme inklusif.
Jurnalis muda juga hidup di era digital di mana media sosial berfungsi sebagai alat utama untuk membahas isu sosial dan budaya. Namun, media sosial sering kali memperkuat narasi konservatif yang menentang keberagaman. Sebuah survei yang dilakukan oleh INFID pada 2016 menunjukkan bahwa meskipun generasi muda menolak tindakan kekerasan bermotif agama, mereka cenderung menerima intoleransi terhadap kelompok keyakinan minoritas.
Survei lanjutan pada 2020 menunjukkan adanya pergeseran positif dalam pandangan generasi muda terhadap isu intoleransi dan ekstremisme berbasis agama. Sebagian besar generasi muda menolak tindakan kekerasan dan tidak menganggapnya mencerminkan ajaran agama yang sebenarnya.
Harapan dari Pelatihan
Melalui pelatihan ini, BandungBergerak dan INFID berharap para jurnalis muda dapat menyampaikan berita yang lebih bijak dan menghormati keberagaman. Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan iklim sosial yang lebih toleran dan adil. Produk jurnalistik yang dihasilkan diharapkan mampu membuka ruang bagi semua kelompok dan menjaga keberagaman.
Pelatihan ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang peningkatan keterampilan, tetapi juga sebagai langkah penting untuk memperkuat keberagaman dalam pemberitaan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme inklusif, jurnalis muda diharapkan dapat menghasilkan konten yang lebih berimbang dan mencerminkan keragaman Indonesia secara adil.
Peserta pelatihan juga diajak memahami bagaimana isu keberagaman perlu disajikan dengan cara yang sensitif dan adil, tanpa memperkuat stereotip atau bias. Narasumber kompeten dari berbagai latar belakang, seperti LBH Bandung, Organisasi Budidaya, PGAK Santa Odilia, Fatayat NU Jabar, dan Setara Institute memberikan pandangan yang berharga dalam kegiatan ini.




