Pelajaran Adab dari Jombang untuk Media Jakarta
Sumber Foto: jatimupdate.id
Ruang Redaksi

Pelajaran Adab dari Jombang untuk Media Jakarta

Surabaya, JatimUPdate.id - Polemik yang muncul dari tayangan Trans7 yang dianggap menyinggung dunia pesantren bukanlah sekadar masalah teknis atau kesalahan ucapan. Peristiwa ini mencerminkan semakin besarnya jarak antara kehidupan masyarakat perkotaan yang terjebak dalam modernitas dengan mereka yang masih berpegang pada kesederhanaan dan nilai-nilai spiritual.

Gedung-gedung tinggi di Jakarta mungkin telah menyempitkan pandangan sebagian insan media mengenai kehidupan di luar sana, yang tidak diukur dengan kemewahan, melainkan dengan keluhuran moral dan ketaatan kepada guru. Dalam ruang-ruang redaksi yang sibuk mengejar rating dan klik, kehidupan pondok pesantren yang bersahaja bisa tampak asing atau bahkan aneh. Namun, di balik kesederhanaannya, pesantren menyimpan kebijaksanaan yang sulit ditemukan di tengah gemerlap ibu kota.

Saya teringat pengalaman berkesan saat mengunjungi salah satu pesantren di Jombang, Jawa Timur. Sebagai orang luar yang awam terhadap kultur pesantren, saya datang dengan rasa ingin tahu dan kehati-hatian. Namun, yang menyambut kami bukanlah tatapan curiga, melainkan keramahan tulus. Sang kiai, yang mungkin memandang kami sebagai tamu asing, justru mengajak kami untuk makan terlebih dahulu sebelum berdiskusi.

Momen sederhana itu menampar kesombongan intelektual kami. Sebelum berbicara tentang norma dan etika, sang kiai mengajarkan makna adab dan penghormatan melalui tindakan nyata. "Kami dibuat tertegun oleh ketenangan, kebijaksanaan, dan ketinggian moral yang hidup di salah satu lingkungan pendidikan tertua di Indonesia ini," ungkap Ken Bimo Sultoni saat berkunjung ke pondok pesantren Denanyar Jombang pada Juni 2024.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga sekolah kehidupan yang menjaga nilai keikhlasan, kesabaran, dan rasa tazim (penghormatan) dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, ketika tayangan televisi menggambarkan kehidupan pesantren secara dangkal atau bahkan menistakan, yang terusik bukan hanya warga pesantren, tetapi juga nurani publik yang masih menjunjung etika.

Tayangan semacam itu menunjukkan betapa semangat materialistik telah menumpulkan rasa hormat dan kepekaan budaya kita. Di tengah budaya yang semakin menilai segalanya dengan uang, sensasi, dan popularitas, nilai moral perlahan tergeser menjadi sekadar ornamen.

Media memiliki peran besar dalam membentuk pandangan publik. Oleh karena itu, media seharusnya tidak hanya mengejar perhatian, tetapi juga menjaga keadaban. Permintaan maaf memang penting, namun yang lebih utama adalah kesadaran baru bahwa tugas media adalah memberitakan sekaligus mendidik dan menanamkan rasa hormat pada nilai-nilai luhur bangsa.

Mungkin sudah saatnya media “turun ke tanah” kembali, menyentuh realitas masyarakat desa, mendengar suara dari pondok-pondok sunyi yang jauh dari sorotan, dan belajar kembali menghargai kearifan yang lahir dari kesederhanaan. Sebab, di balik tembok pesantren yang tampak sederhana, tersimpan kekuatan moral yang sesungguhnya menjaga keutuhan karakter bangsa ini.