Pati Capai Panen Padi 10,28 Ton per Hektare, Tingkatkan Ketahanan Pangan
Pemerintah Kabupaten Pati berhasil membuktikan program panen padi 10 ton per hektare, meningkatkan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional.
21:00:49
Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berhasil menunjukkan keberhasilan program panen tanaman padi dengan capaian 10 ton per hektare. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas di sektor pertanian daerah. Program ini tidak hanya menjadi target, tetapi telah teruji secara nyata di lapangan melalui pendampingan intensif kepada para petani.
Pelaksana tugas Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menegaskan pencapaian tersebut saat mengikuti panen raya padi di Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, pada Sabtu, 7 Februari 2026. Hasil panen yang tercatat mencapai 10,28 ton per hektare, melampaui target yang ditetapkan. Kehadiran Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, turut menjadi saksi pembuktian program peningkatan produktivitas pertanian yang digagas oleh Pemkab Pati ini.
Risma Ardhi Chandra menjelaskan bahwa keberhasilan panen raya ini merupakan hasil kolaborasi dan kerja keras lintas sektor, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa. Program ini dianggap luar biasa karena tim pertanian dari kecamatan sampai desa bekerja keras melakukan sosialisasi dan pendampingan. Hal ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam mendukung kesejahteraan petani dan kemajuan sektor pertanian.
Keberhasilan Program dan Pendampingan Intensif
Program panen padi 10 ton per hektare di Kabupaten Pati telah membuktikan efektivitasnya dengan capaian riil sebesar 10,28 ton per hektare di Desa Bumiharjo. Plt. Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menyatakan bahwa angka ini bukan sekadar target, melainkan hasil nyata dari pendampingan intensif kepada petani. Keberhasilan ini disaksikan langsung oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, yang hadir dalam acara panen raya tersebut.
Risma menekankan bahwa pencapaian luar biasa ini merupakan buah dari kerja keras dan sinergi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah kabupaten hingga tingkat desa. Tim pertanian di setiap tingkatan aktif melakukan sosialisasi dan pendampingan, memastikan petani mendapatkan bimbingan yang diperlukan. Dedikasi ini menjadi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah Pati.
Capaian ini menjadi bukti konkret bahwa dengan strategi yang tepat dan dukungan penuh, sektor pertanian dapat mencapai hasil yang optimal. Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
Peran Pupuk dan Peningkatan Hasil Panen
Peningkatan produksi padi di Pati, yang sebelumnya hanya berkisar 5-7 ton per hektare, kini mampu mencapai lebih dari 10 ton berkat kombinasi penggunaan pupuk yang tepat. Risma Ardhi Chandra mengungkapkan bahwa petani di sana masih memanfaatkan pupuk subsidi secara penuh, yang kemudian dilengkapi dengan tambahan pupuk pendukung.
Kombinasi strategis antara pupuk subsidi dan pupuk pendukung ini terbukti mampu mendongkrak hasil panen secara signifikan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa optimalisasi penggunaan sumber daya yang tersedia, termasuk pupuk, sangat krusial dalam mencapai target produktivitas tinggi. Hasilnya, Desa Bumiharjo mampu mencatat produksi hingga 10,2 ton per hektare.
Keberhasilan ini juga menggarisbawahi pentingnya inovasi dan adaptasi dalam praktik pertanian. Dengan dukungan alat-alat pertanian yang memadai, potensi peningkatan hasil panen di masa mendatang akan semakin besar, seperti yang diharapkan oleh Plt. Bupati Pati.
Dukungan DPR RI dan Agenda Ketahanan Pangan Nasional
Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian Pemerintah Kabupaten Pati dalam mengoptimalkan produksi padi. Menurutnya, keberhasilan ini selaras dengan agenda nasional percepatan swasembada pangan dan penguatan ketahanan pangan Indonesia. Stok beras nasional yang mencapai 3,32 juta ton di awal tahun ini menjadi indikator positif, namun Firman mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan capaian ini dengan mengantisipasi gagal panen dan anomali cuaca.
Firman Soebagyo juga menyoroti urgensi perbaikan tata kelola pupuk dan penguatan peran negara dalam stabilisasi harga pangan. Pemerintah pusat saat ini tengah menyiapkan kebijakan untuk memperkuat Bulog sebagai penyangga stok dan harga komoditas pangan. Selain itu, dorongan penggunaan pupuk organik dan mikroba juga menjadi fokus untuk menjaga produktivitas serta keberlanjutan pertanian nasional.
Langkah-langkah strategis ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pusat, dan petani menjadi kunci untuk mencapai tujuan swasembada pangan dan memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat.




