Panda Plan 2: Komedi Kurang Mengena dan Cerita yang Lesu
Sumber Foto: Duniaku.com
Hiburan

Panda Plan 2: Komedi Kurang Mengena dan Cerita yang Lesu

1. Alur Petualangan yang Kehilangan Urgensi dan Bahaya

Dok. Media Holdings Limited (Panda Plan: The Magical Tribe)

Narasi film ini berpusat pada ramalan kuno yang menganggap Hu Hu sebagai dewa dan Jackie sebagai pembawa pesan yang harus mendaki Puncak Awe untuk menghentikan bencana besar. Melalui monolog eksposisi yang panjang dan bantuan urutan animasi, kepala suku yang diperankan oleh Li Ma mencoba meyakinkan penonton tentang taruhan besar dalam misi ini.

Namun, masalah utama terletak pada tempo cerita yang sangat santai dan seolah bergerak di tempat. Alih-alih merasakan ketegangan petualangan, penonton justru dipaksa menyaksikan drama internal keluarga antara sang kepala suku dengan anak-anaknya, Shanyi dan Tulu, yang seringkali tidak relevan dengan plot utama.

Karakter-karakter di dalamnya seolah memiliki waktu luang yang tak terbatas untuk berdebat dan menari, padahal nasib suku mereka seharusnya sedang berada di ujung tanduk.

2. Koreografi Aksi yang Lesu dan Humor yang Meleset

Dok. Media Holdings Limited (Panda Plan: The Magical Tribe)

Bagi para penggemar yang mengharapkan aksi akrobatik kreatif khas Jackie Chan, film ini memberikan kekecewaan yang cukup mendalam. Penata laga Lü Shijia menyajikan sekuens pertarungan yang terasa lesu dan kurang inovasi jika dibandingkan dengan standar emas film-film Jackie sebelumnya.

Upaya untuk menyisipkan komedi di tengah aksi pun seringkali berakhir memalukan, seperti subplot pembunuh bayaran Qiangshan yang menderita amnesia dan malah menganggap Jackie sebagai penyelamatnya.

Salah satu adegan yang paling mengganggu adalah momen di mana beberapa anggota suku berhalusinasi setelah memakan jamur ajaib, sebuah lelucon yang gagal memancing tawa dan justru terasa sangat dipaksakan. Minimnya rasa bahaya dan pertaruhan fisik membuat setiap adegan perkelahian hanya terasa seperti pengisi durasi tanpa makna yang berarti bagi perkembangan cerita.

3. Pesan Moral yang Agak Terlambat di Akhir Perjalanan

Dok. Media Holdings Limited (Panda Plan: The Magical Tribe)

Satu-satunya momen yang patut diapresiasi muncul pada babak ketiga, di mana film ini tiba-tiba beralih menjadi drama moralitas tentang pentingnya persatuan keluarga dan kasih sayang. Jackie Chan, dengan kharisma alaminya, berhasil memberikan sentuhan emosional yang tulus, membuktikan bahwa ia masih mampu menyampaikan pesan kehidupan yang menyentuh meskipun di usia senjanya.

Sayangnya, satu adegan bagus ini tidak cukup untuk menebus kegagalan narasi di dua babak sebelumnya. Panda Plan: The Magical Tribe pada akhirnya adalah sebuah sekuel yang kehilangan taringnya, menyisakan pengalaman menonton yang hambar dan membuat film pertamanya yang tidak sempurna itu justru terlihat jauh lebih baik jika dibandingkan dengan ini.

Sinopsis Panda Plan: The Magical Tribe (2026)

Kisah bermula ketika Jackie (Jackie Chan) sedang dalam perjalanan bersama asisten dan driver-nya yang tiba-tiba menghilang secara misterius. Di tengah kepanikan, Jackie yang ditemani oleh panda kesayangannya, Hu Hu, justru terjebak di dalam hutan belantara dan menjadi incaran para pemburu dari sebuah suku pedalaman yang terisolasi. Setelah tertangkap, situasi berubah drastis saat sang kepala suku (Ma Li) justru menyembah Hu Hu sebagai dewa mereka dan meyakini bahwa Jackie adalah "sang pembawa pesan" yang telah lama diramalkan dalam prasasti kuno mereka.

Berdasarkan ramalan tersebut, suku mereka terancam oleh bencana dahsyat yang hanya bisa dihentikan jika sang pembawa pesan dan makhluk suci itu berhasil menaklukkan tantangan di Puncak Awe. Namun, perjalanan Jackie tidaklah mudah; ia harus menghadapi Tulu, putra kepala suku yang bebal, serta Qiangshan, seorang pembunuh bayaran yang dikirim untuk menghabisinya namun justru berakhir mengalami amnesia dan menganggap Jackie sebagai penyelamatnya.

Di tengah ancaman bencana dan sabotase internal suku, Jackie harus berjuang menyatukan anggota suku yang tercerai-berai. Bukan hanya soal kekuatan fisik atau keahlian bertarung, petualangan ini memaksa Jackie untuk mengajarkan arti persatuan, cinta kasih, dan pengorbanan keluarga demi menyelamatkan suku tersebut dari kehancuran yang mengintai.