Ormat Menang Lelang Panas Bumi Halmahera, Isu Geopolitik dan Lingkungan Muncul
HARIAN BOGOR RAKYAT - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan PT Ormat Geothermal Indonesia sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu di Halmahera Barat, Maluku Utara. Kebijakan ini disebut menjadi bagian strategi pemerintah dalam mendorong target Net Zero Emission 2060 melalui pengembangan energi terbarukan.
Penetapan tersebut sekaligus menempatkan proyek panas bumi di Telaga Ranu sebagai salah satu fokus investasi energi bersih di kawasan timur Indonesia. Pemerintah menilai pengembangan geothermal menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan emisi karbon.
Namun, keputusan ini memunculkan perdebatan publik. Pasalnya, PT Ormat Geothermal Indonesia merupakan anak perusahaan dari Ormat Technologies, perusahaan energi global yang memiliki sejarah pendirian di Israel. Keterkaitan tersebut memicu diskusi soal sensitivitas geopolitik dan sikap pemerintah dalam menerima investasi.
Sejumlah pihak menilai Indonesia memang tidak memiliki regulasi khusus yang secara eksplisit melarang entitas bisnis asal Israel beroperasi. Namun, keberadaan perusahaan tersebut di proyek strategis energi dianggap sebagian kalangan sebagai bentuk normalisasi hubungan ekonomi yang berpotensi memicu polemik.
Di sisi lain, Ormat menegaskan fokusnya pada pengembangan pembangkit listrik panas bumi, pemanfaatan panas limbah industri, serta teknologi penyimpanan energi. Portofolio ini dinilai sejalan dengan agenda transisi energi yang tengah didorong pemerintah Indonesia.
Tak hanya isu geopolitik, proyek geothermal seluas sekitar 16 ribu hektare di Telaga Ranu juga memunculkan kekhawatiran lingkungan. Sejumlah kelompok masyarakat menyampaikan penolakan terhadap rencana pengembangan yang dinilai berpotensi berdampak pada ekosistem lokal dan ruang hidup warga.
Ormat sendiri bukan pemain baru di Indonesia. Sejak 2018, perusahaan tersebut telah terlibat dalam proyek panas bumi di Tapanuli, Sumatera Utara, termasuk pengembangan PLTP Sarulla berkapasitas 330 MW yang disebut sebagai salah satu pembangkit geothermal terbesar di dunia.




