Musik sebagai Sarana Advokasi Kekerasan Terhadap Perempuan
KBRN, Jakarta: Vokalis dan Edukator Band Sisters In Danger x Simponi, Berkah Gamulya menegaskan musik dapat menjadi strategi advokasi yang efektif untuk isu kekerasan perempuan. Ia menilai pendekatan kreatif mampu menjangkau kelompok muda yang sulit dijangkau edukasi konvensional.
Mulya bercerita bahwa band-nya telah lama terlibat dalam aktivitas penyuluhan dan gerakan sosial. Namun pada 2010 ia menyadari edukasi akan lebih menarik bila disampaikan melalui musik.
"Kalau edukasi pakai musik kayaknya lebih asik ya, jadi 2010 bikin band. Saya kerja kantoran, penyuluhan kemana-mana, kemudian dengan band bersama teman-teman edukasi pakai musik," ujar Mulya saat sesi diskusi publik di Kedutaan Besar Prancis IFI Jakarta, Minggu (30/11/2025).
Menurutnya, musik tidak hanya menjadi sisipan hiburan dalam sesi edukasi. Musik justru berperan sebagai materi utama yang dipadukan dengan penjelasan naratif.
"Fokus kami akhirnya menguat pada isu perempuan sejak 2013, saat itu muncul kasus gang rape di India yang memilukan. Pengalaman itu sangaat mengguncang kami, sangat brutal kekerasan seksual terhadap perempuan ini," ucapnya.
Mulya mempelajari berbagai laporan lembaga pendamping perempuan untuk memahami pola kekerasan seksual. Ia terkejut menemukan bahwa banyak pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat korban.
"Saya shock, ternyata kekerasan seksual semengerikan itu, bahkan pelakunya paling banyak adalah orang-orang dekat. Kami bikin lagu yang judulnya 'Sisters in Danger', karena dimana-mana danger," ujar Mulya.
Mulya menyebut para pelaku bisa berasal dari figur berkuasa seperti tokoh agama atau keluarga. “Yang melakukannya ini yang punya relasi kuasa lebih tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, edukasi berbasis musik efektif karena disampaikan oleh laki-laki yang memahami sisi maskulinitas. Ia menilai laki-laki perlu terlibat aktif untuk mengubah perilaku sesama laki-laki.
Di kesempatan yang sama, Seniman Tari EKI Dance Company, Ara Ajisiwi menilai seni pertunjukan juga efektif untuk kampanye kesetaraan. Ia menyebut banyak cerita rakyat mengandung perspektif patriarki sehingga penting ditafsir ulang.
"Kita sering mementaskan dari cerita rakyat, seperti Calon Arang dan Lutung Kasarung, yang mungkin dulu ditulis di jaman masih patriarki. Tapi sekarang kita mengambil sudut pandang berbeda, gimana kalau lihat di point of view jaman sekarang," ucap Ara.




