Minim Akses Pejalan di Terminal Kampung Melayu Picu Penggunaan Kendaraan Pribadi
Nasional

Minim Akses Pejalan di Terminal Kampung Melayu Picu Penggunaan Kendaraan Pribadi

Ruang Press - Terminal Kampung Melayu di Jakarta Timur menghadapi tantangan serius terkait aksesibilitas pejalan kaki, yang berpotensi mendorong masyarakat beralih ke kendaraan pribadi. Kondisi ini terjadi di tengah upaya Pemerintah Provinsi Jakarta untuk meningkatkan penggunaan transportasi umum.

Awal Kejadian

Terminal Kampung Melayu seharusnya dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Namun, hingga saat ini, terminal tersebut belum memiliki jalur khusus untuk pejalan kaki. Hal ini memaksa penumpang untuk berbagi ruang dengan kendaraan yang keluar-masuk terminal, yang berisiko bagi keselamatan mereka.

Perkembangan

Pengemudi Transjakarta dan Jaklingko sering kali harus mengerem mendadak dan membunyikan klakson untuk menghindari penumpang yang berjalan di jalur kendaraan. Selain itu, armada Jaklingko kerap menurunkan penumpang di berbagai titik dalam terminal, yang membuat situasi di Terminal Kampung Melayu terlihat semrawut dan kurang tertata. Pengamat transportasi, Deddy Herlambang, menyatakan bahwa terminal ini tidak lagi menjadi simpul transportasi tersibuk, tetapi tetap perlu diperhatikan dalam hal penyediaan fasilitas dasar seperti akses pejalan kaki.

Kondisi Terakhir

Deddy menilai ketiadaan akses pejalan kaki di Terminal Kampung Melayu melanggar Standar Pelayanan Minimal (SPM). Ia menekankan bahwa trotoar dan akses pejalan kaki adalah hal yang vital bagi sebuah terminal. Terminal ini juga minim ruang tunggu, dengan hanya satu halte berukuran lima hingga enam meter yang terletak di seberang terminal, terpisah oleh jalur kendaraan pribadi, sehingga tidak ramah bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan disabilitas.

You can share this post!