Mengajarkan Toleransi dan Kepedulian Lingkungan pada Anak di Bulan Ramadan
Sumber Foto: Kompasiana.com
Sosial

Mengajarkan Toleransi dan Kepedulian Lingkungan pada Anak di Bulan Ramadan

Setiap bulan Ramadan datang, suasana di sekitar kita terasa sedikit berbeda. Ritme hidup melambat, ajakan berbagi terdengar lebih sering, dan banyak orang mulai menahan diri, bukan sekedar menahan lapar dan haus tetapi juga dari sikap yang berlebihan. Saat bulan Ramadan saya melihat sebuah momen menarik yang mungkin saya hanya ada di Indonesia, di mana saat azan maghrib belum berkumandang dan jam buka puasa belum dimulai ada sebuah kebiasaan unik di Indonesia di setiap bulan Ramadan, yaitu adanya War Takjil.

War Takjil ini merupakan seperti event tahunan yang selalu hadir dan diikuti oleh banyak pihak, bukan hanya umat muslim yang sedang puasa akan tetapi juga diikuti oleh umat agama lain. Sebuah gambaran menarik sekaligus membuktikan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat inklusif. Tepat di bulan Ramadan ini pula saya melihat bahwa ada sebuah nilai yang bisa ditanamkan sejak dini kepada anak-anak, yaitu sikap Toleransi sekaligus kepedulian akan lingkungan. Mengapa ini penting? Karena Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam agama dan budaya dan pada momen bulan Ramadan ini setiap orang tua dapat memberikan nilai yang tentu akan diingat oleh anak-anaknya. Di sisi lain, kepedulian akan lingkungan juga menjadi penting karena setiap momen Ramadan juga menimbulkan masalah yaitu banyaknya sampah dari membeli makanan dan minuman untuk Sahur dan Buka Puasa.

Lalu apa saja langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mengajarkan sikap toleransi dan peduli lingkungan? Berikut ulasannya

1. Integrasi Materi Multikultural dan Lingkungan dalam Kurikulum

Sebagai sebuah dasar dan kunci bagaimana pengajaran diberlakukan, tentu kurikulum yang benar dan baik sangatlah penting di dalam pendidikan. Dalam menciptakan nilai toleransi dan cinta lingkungan maka kurikulum seharusnya mencakup konten pengajaran nilai-nilai budaya lokal dan multikultural serta mencakup pelestarian lingkungan, seperti: cerita rakyat, budaya daerah, nilai keberlanjutan, dan pelestarian alam.

Berdasarkan hasil penelitian (2025) dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar yang dikeluarkan Universitas Pasundan menunjukan bahwa implementasi pendidikan multikultural yang efektif dapat meningkatkan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan agama di lingkungan sekolah. Melalui pendidikan yang menghargai keberagaman, siswa diajarkan untuk saling menghormati dan memahami satu sama lain, yang pada gilirannya menciptakan lingkungan belajar yang lebih harmonis.

Sama halnya dalam pengajaran nilai toleransi, menciptkan kurikulum berbasis kepedulian akan lingkungan dan pelestariannya juga sangatlah penting karena dengan begitu anak-anak akan belajar melestarikan lingkungan dan apa manfaat yang akan dirasakan bagi mereka di kehidupan sehari-hari

2. Praktik Pembiasaan Toleransi dalam kehidupan sehari-hari

Bukan hanya dijadikan kurikulum semata, sebuah pembelajaran akan menjadi sebuah kebiasaan yang akan terus melekat pada anak-anak jika hal itu dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Menanamkan nilai toleransi melalui rutinitas, seperti: doa bersama, berbagi tugas, dan saling mendengarkan saat perbedaan keyakinan muncul merupakan langkah yang dapat dilakukan.

Salah satunya yang pernah dilakukan adalah di TK Negeri Pembina Karangmalang (Sragen), pendekatan pendidikan toleransi agama dilakukan dengan berbagai cara dan langkah sederhana, seperti: siswa Muslim melafalkan syahadat atau doa, sedangkan Non-Muslim melakukan aktivitas doa atau berkarya dalam tema yang sama