Ruang Press - Industri media dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga akurasi dan kemampuan beradaptasi di tengah penurunan page views dan perubahan perilaku pembaca. Disrupsi kecerdasan buatan (AI) dan fenomena zero click menjadi faktor yang memengaruhi cara masyarakat mengonsumsi informasi.
Permintaan untuk mengubah pola jurnalisme yang mengutamakan kecepatan menjadi lebih akurat dan berkualitas semakin meningkat. Hal ini sejalan dengan perubahan lanskap digital yang memengaruhi keberlangsungan bisnis media. Domu D. Ambarita, penanggung jawab Tribunnews.com, mengungkapkan bahwa permintaan take down berita meningkat, yang umumnya disebabkan oleh kepentingan penguasa, bisnis internal, atau kesalahan redaksi.
Domu menjelaskan bahwa perubahan sistem kerja redaksi di Tribun Network dilakukan setelah mengevaluasi dampak algoritma Google yang mengutamakan kecepatan. Sejak pengembangan portal regional pada tahun 2014, para jurnalis ditargetkan menghasilkan minimal 15 berita per hari, yang seringkali menghambat proses verifikasi. Untuk menghadapi tantangan ini, Tribun Network melahirkan Deklarasi Bogor 2023 yang melarang pengutipan langsung dari media sosial sebagai sumber berita, dan menekankan pentingnya verifikasi informasi melalui konfirmasi pihak terkait.
Domu mengungkapkan bahwa meskipun terdapat tekanan bisnis yang berat dan penurunan page views hingga 50 persen di banyak media, termasuk Tribun Network, perubahan kebijakan memberikan hasil positif. Hanya satu kasus klarifikasi di Dewan Pers yang dihadapi sepanjang 2026, berbeda dengan tahun 2023 yang hampir setiap bulan menghadapi proses serupa. Domu tetap optimis bahwa media arus utama dapat bertahan dengan membangun paradigma baru yang fokus pada kualitas konten dan pengembangan sumber pendapatan yang berkelanjutan.