Mahasiswa Hadapi Tantangan Advokasi di Era Digital
Kolaka Utara, 25 Februari 2026
Perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mengubah wajah gerakan mahasiswa di era digital. Arus informasi yang bergerak begitu cepat melalui media sosial, platform digital, hingga sistem berbasis algoritma kini menghadirkan tantangan baru dalam menentukan sikap organisasi terhadap berbagai persoalan publik.
Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa kerap dihadapkan pada dua pilihan melakukan advokasi berdasarkan kajian atau sekadar bereaksi terhadap isu yang sedang viral di ruang digital.
Merujuk pada pemikiran dalam buku Membentuk Manusia Perang Pikiran, konflik di era modern tidak lagi selalu hadir dalam bentuk fisik, melainkan berlangsung dalam ruang kesadaran manusia sebuah perang pikiran. Dalam konteks ini, kemampuan individu maupun organisasi untuk mengendalikan cara berpikir menjadi hal krusial sebelum mengambil keputusan atau sikap.
Ketua Bidang Advokasi Perhimpunan Mahasiswa Informatika dan Komputer Nasional (PERMIKOMNAS) Wilayah XIV Sulawesi Tenggara menyatakan bahwa derasnya informasi di era digital berpotensi menciptakan ilusi kebenaran yang dapat mempengaruhi arah gerakan mahasiswa apabila tidak disikapi secara kritis.
Menurutnya, tidak semua isu yang beredar harus langsung direspons dalam bentuk pernyataan sikap ataupun gerakan AdvokasiKita harus mampu membedakan antara advokasi dan reaksi. Tidak semua isu harus langsung kita cerna. Perlu ada ruang-ruang kajian di dalam organisasi untuk memverifikasi data, menganalisis dampak sosial, serta mempertimbangkan aspek logis sebelum suatu persoalan diangkat menjadi agenda perjuangan," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa advokasi di era AI tidak bisa lagi bersifat reaktif terhadap tren informasi atau tekanan opini publik.
"Organisasi harus mampu mengkaji terlebih dahulu setiap persoalan sebelum menentukan langkah advokasi. Jangan sampai sikap yang diambil hanya lahir dari tekanan algoritma atau opini yang belum tentu terverifikasi," tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pembentukan forum diskusi internal, riset organisasi, serta laboratorium kajian isu menjadi langkah strategis dalam memastikan bahwa setiap advokasi yang dilakukan tidak lahir dari emosi sesaat, melainkan dari analisis yang terukur.
Dengan demikian, di tengah dominasi algoritma dalam membentuk persepsi publik, kerja-kerja advokasi mahasiswa diharapkan tetap berlandaskan pada kesadaran kritis agar keputusan organisasi tetap berada dalam kendali manusia, bukan semata-mata dipengaruhi oleh arus informasi digital yang belum terverifikasi.
Pada akhirnya, di era kecerdasan buatan, tantangan terbesar gerakan mahasiswa bukan hanya memperjuangkan kepentingan publik, tetapi memastikan bahwa setiap advokasi yang dilakukan merupakan hasil dari proses berpikir yang matang bukan sekadar reaksi terhadap ilusi digital, tutupnya.




