Leonard Samosir: Modal Utama Jurnalis Adalah Pengetahuan, Koneksi, dan Doa
Jakarta: Suasana di green room Studio 1 Metro TV siang itu dipenuhi cahaya neon yang menerangi ruang. Di sudut ruangan, Leonard Samosir, salah satu tokoh terkemuka dalam isu ekonomi di Metro TV, berbincang dengan tim Metrotvnews.com. Ia dikenal di layar kaca sebagai sosok yang kritis, terstruktur, dan tajam dalam membahas isu-isu ekonomi. Namun, di balik layar, Leo, sapaan akrabnya, menunjukkan sisi yang lebih santai, ekspresif, dan penuh tawa.
"Cepat itu penting, tapi akurat itu lebih penting," kata Leo dengan tegas, membuka obrolan yang penuh prinsip yang menjadi pegangan sepanjang kariernya di Metro TV yang telah memasuki usia 25 tahun.
Dari Dunia Keuangan ke Ruang Redaksi
Leonard memulai kariernya di Metro TV pada tahun 2003. Dengan latar belakang di bidang keuangan dan sebagai manajer investasi berlisensi, ia awalnya tidak dianggap sebagai sosok yang berkaitan dengan dunia jurnalistik. Namun, keahlian ekonominya justru menjadi aset utama untuk menavigasi isu-isu kompleks.
Di awal 2000-an, segmen ekonomi di Metro TV membutuhkan jurnalis yang bukan hanya cepat, tetapi juga mampu memberikan konteks yang tepat. Leo hadir pada saat yang tepat dan sejak saat itu dikenal sebagai salah satu jurnalis dengan kedalaman analisis yang konsisten.
"Pemirsa kita adalah segmen A dan B+. Mereka tidak hanya ingin tahu peristiwanya, tetapi juga masalah yang ada, dampaknya, dan apa yang akan terjadi ke depan," ungkapnya dengan serius.
Leo menekankan bahwa akurasi dan kedalaman bukan sekadar standar kerja, melainkan kebutuhan dasar. Metro TV telah bertransformasi menjadi stasiun televisi yang tidak sekadar menyiarkan program biasa, tetapi berbagai program ekonomi seperti Economic Challenge dan Zona Bisnis menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan dan stakeholder di sektor finansial dan ekonomi.
Melihat Berita dari Semua Sudut
Selama wawancara, Leo menggambarkan tugas seorang jurnalis dengan analogi yang menarik. "Ini gajah. Jika Anda melihatnya dari belakang, Anda mungkin mengira itu wajan. Melihat dari gadingnya, Anda akan berpikir berbeda. Tugas kita adalah memberi tahu bahwa itu adalah gajah dari semua sudut," ujarnya dengan tawa kecil.
Analogi tersebut mencerminkan keyakinannya bahwa berita tidak boleh disajikan secara parsial. Pemirsa Metro TV, menurutnya, membutuhkan gambaran utuh. Ia menekankan bahwa kredibilitas media mainstream muncul dari kemampuan menyajikan informasi dengan konteks yang kuat.
Tuntutan Profesional: Upgrade Tanpa Henti
Kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan topik penting bagi Leo. Ia menyatakan, "Yang sudah ada harus di-upgrade. Harus di-upgrade. Serius!" sambil tertawa. Kecepatan transformasi media menuntut semua orang untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan.
Leo mengapresiasi beberapa stasiun televisi yang menampilkan energi kreatif dan cerdas, karakter yang dulunya sangat melekat pada Metro TV. Bagi Leo, kualitas ini adalah pengingat akan pentingnya ketangguhan di tengah persaingan informasi.
Ia juga menekankan pentingnya membangun jaringan dengan berbagai narasumber. "Berbincanglah dengan narasumber bukan hanya saat kita perlu," tegasnya. Leo mencontohkan kedekatannya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang kini menjabat sebagai Menteri Keuangan, dan bagaimana relasi tersebut membantunya mendapatkan informasi yang lebih luas.
Turun ke Lapangan, Dekat dengan Realitas
Leo juga menegaskan pentingnya pengalaman langsung dalam menggali informasi. Ia menyebutkan bahwa ia sering menggunakan transportasi umum seperti TransJakarta dan MRT, serta berinteraksi dengan masyarakat di lapangan. "Ketika saya naik TransJakarta, saya bisa merasakan kekurangan bus, sehingga ketika berbicara dengan pihak TransJakarta, saya tahu jika mereka tidak jujur," ujarnya sambil tertawa.
Menurutnya, jurnalis yang tidak pernah menyentuh realitas seharusnya tidak memberitakan topik tersebut. Observasi di lapangan memberikan intuisi yang tidak bisa didapat dari siaran pers.
Pesan untuk Jurnalis Muda
Menjelang akhir wawancara, Leo memberikan pesan penting untuk jurnalis muda. "Pertama, harus mau dan rajin membaca. Tiap hari otakmu harus isi," ujarnya. Kedua, ia menekankan pentingnya memahami kaidah dasar 5W1H dalam menyampaikan informasi. Menurutnya, menjadi spesialis itu baik, tetapi tidak boleh mengabaikan isu lain.
"Harus tahu!" tegasnya. Ketiga, jurnalis tidak boleh bosan membangun jaringan, yang ia sebut sebagai kekuatan utama setelah pengetahuan. Dan terakhir, Leo mengingatkan akan pentingnya doa. "Tuhan suka anak-anaknya yang berani, tapi bukan nekat," pungkasnya dengan senyuman.




