Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Hampir Terhenti Setelah Serangan AS ke Iran
Internasional

Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Hampir Terhenti Setelah Serangan AS ke Iran

Ruang Press - Lalu lintas kapal di Selat Hormuz nyaris terhenti pada Kamis dini hari setelah serangan baru yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran, serta serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial yang mengganggu kepercayaan terhadap keamanan jalur energi vital ini.

Awal Kejadian

Serangan terbaru mengakibatkan perlambatan signifikan dalam pergerakan kapal di Selat Hormuz. Data pelacakan menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas pelayaran hanya terlihat di jalur yang disetujui oleh Iran di sisi utara selat. Sementara itu, jalur pelayaran yang didukung oleh Amerika Serikat melalui Oman hampir tidak dilalui kapal.

Perkembangan

Di antara kapal berukuran besar, hanya terdapat sebuah supertanker yang dikenakan sanksi AS dan tengah meninggalkan Teluk Persia, serta sebuah kapal kontainer berbendera Iran, Touska, yang terpantau melintas. Perlambatan ini terjadi setelah sebelumnya ada pemulihan aktivitas pelayaran menyusul kesepakatan sementara antara AS dan Iran pada pertengahan Juni. Kesepakatan tersebut sempat membuka kembali Selat Hormuz dan mengizinkan pengiriman kargo yang tertunda mulai bergerak.

Namun, gangguan baru muncul akibat serangan terhadap kapal-kapal, termasuk kapal pengangkut gas alam cair asal Qatar dan tanker minyak terkait Arab Saudi. Insiden ini mendorong Washington untuk melancarkan serangan baru ke sasaran di Iran. Presiden AS Donald Trump juga mengonfirmasi bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir.

Kondisi Terakhir

Saat ini, pergerakan kapal tanker LNG melalui Selat Hormuz masih terhenti. Laporan pelacakan menunjukkan bahwa beberapa kapal, termasuk yang dioperasikan oleh QatarEnergy, seperti Al Ghariya, Duhail, dan Al Ruwais, memilih untuk berbalik arah sebelum memasuki selat. Kapal tanker minyak mentah berbendera India, Lila Vadinar, juga melakukan putar balik di lepas pantai Oman. Meskipun situasi keamanan memburuk, beberapa kapal tanker minyak mentah seperti Mercury Hope, Tenjun, dan Pertamina Pride berhasil keluar dari Selat Hormuz pada awal pekan ini. Selain itu, terdapat indikasi gangguan elektronik di Teluk Oman, di mana beberapa kapal bergerak dengan kecepatan tidak wajar, menunjukkan kemungkinan gangguan pada sinyal navigasi.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari melewati jalur ini, berpotensi menimbulkan risiko besar terhadap pasar minyak dan gas global jika gangguan berkepanjangan terus berlangsung.

You can share this post!