Kunjungan Tokoh Muhammadiyah Memeriahkan Pagi di Ruang Redaksi Suara Muhammadiyah
YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pagi ini, suasana di ruang redaksi Suara Muhammadiyah tampak lebih cerah dengan kehadiran dua tokoh penting dari persyarikatan Muhammadiyah, yaitu Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si dan Buya Anwar Abbas. Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau buku-buku yang akan segera diterbitkan oleh Penerbit Suara Muhammadiyah.
Salah satu buku yang sudah terbit adalah "Respons Anak Kampung Untuk Umat, Bangsa & Dunia" karya Buya Anwar Abbas, sementara buku milik Prof. Haedar Nashir masih dalam tahap pengeditan. Pertemuan yang berlangsung di lantai 3 Graha Suara Muhammadiyah ini berlangsung dalam suasana santai dan penuh guyonan.
Diskusi Produktif di Ruang Redaksi
Di ruang redaksi yang cukup padat dengan bilik-bilik, kedua tokoh tersebut sering melirik ke arah jendela yang menghadap gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang lama. Dalam kesempatan ini, mereka juga membahas impian ke depan, termasuk keinginan untuk memiliki gedung yang megah dan terpadu sebagai pusat Islam yang berkemajuan.
Ketika pramusaji datang dengan nampan berisi makanan dan minuman, suasana semakin hangat. Prof. Haedar dan Buya Anwar mempersilakan pramusaji untuk menyajikan hidangan di meja. Mereka kemudian melanjutkan diskusi dengan salah satu editor senior, Dwi Agus, yang telah siap di depan komputernya untuk menyiapkan naskah yang akan diterbitkan.
Masukan dan Humor Ringan
Dari dua tokoh tersebut, berbagai masukan mengenai isi buku, desain sampul, hingga kata pengantar disampaikan dalam suasana yang bersahabat. Buya Anwar, sambil memegang bukunya, menanyakan tentang desain sampul. Ia mengomentari, "Ini yang buat covernya siapa?"
Amin Mubarok, desainer sampul buku-buku Suara Muhammadiyah, segera menjelaskan bahwa desain tersebut merupakan karyanya. "Ini semuanya saya Buya," jawab Amin. Mendengar hal itu, Buya Anwar bercanda, "Kalau begini ngomongnya, berarti saya suruh bayar."
Diskusi berlanjut dengan Buya Anwar menanyakan jumlah personil redaksi. Ganjar Sri Husodo, Manajer Penerbitan SM, menjelaskan bahwa ada lebih dari 12 hingga 15 orang, dengan beberapa di antaranya adalah pensiunan yang masih diperbantukan. Pertanyaan selanjutnya dari Buya adalah tentang tempat makan, yang dijawab dengan humor oleh Ganjar, "Tergantung sponsor Buya."
Di akhir pertemuan, Buya Anwar meminta nomor rekening untuk keperluan makan. Ia juga memastikan, "Nanti harus makan. Kalau tidak lapor saya," instruksinya kepada seluruh tim redaksi, menambah keceriaan suasana pagi itu.




