Kronologi Teror Terhadap Redaksi Tempo: Kepala Babi dan Bangkai Tikus
Sumber Foto: Tempo.co
Ruang Redaksi

Kronologi Teror Terhadap Redaksi Tempo: Kepala Babi dan Bangkai Tikus

Pada bulan Maret 2025, redaksi Tempo mengalami serangkaian teror yang mencengangkan. Insiden ini dimulai pada tanggal 19 Maret ketika Francisca Christy Rosana, seorang wartawan di desk politik dan host siniar Bocor Alus Politik, menerima paket berisi kepala babi yang telah dipotong kedua telinganya.

Detail kejadian tersebut bermula pada pukul 16.11 WIB, saat petugas keamanan Tempo menerima paket tanpa nama pengirim dan penerima dari seorang kurir ojek. Paket yang dililit dengan solatif coklat tersebut ditujukan kepada Francisca, meskipun terdapat satu kesalahan dalam penulisan namanya.

Dua hari setelahnya, pada 20 Maret, Francisca tiba di kantor setelah liputan mengenai revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia. Rekan-rekannya membuka paket tersebut di ruang redaksi dan langsung terpapar dengan bau menyengat serta daging hewan. Paket itu kemudian dibawa keluar oleh petugas kebersihan.

Jelang malam tanggal 21 Maret, ancaman lebih lanjut muncul melalui pesan yang dikirimkan oleh akun Instagram @derrynoah. Pesan tersebut berisi ancaman yang menyatakan bahwa teror akan terus berlanjut hingga kantor Tempo ditutup, disertai emotikon yang meremehkan.

Pada hari yang sama, pemimpin redaksi Tempo, Setri Yasra, melaporkan insiden tersebut kepada Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Polri. Dan pada malam itu, ibunda Francisca mengalami kejadian yang mencurigakan ketika telepon selulernya diambil alih oleh seorang laki-laki yang tidak dikenal.

Insiden kedua terjadi pada tanggal 22 Maret, ketika dua orang berboncengan sepeda motor melemparkan kardus berisi enam tikus got yang telah dipenggal kepalanya. Kardus tersebut ditemukan oleh petugas kebersihan di halaman kantor Tempo pada pagi hari, dengan isinya yang mengejutkan dan menambah ketegangan di lingkungan redaksi.

Sehari setelah insiden tersebut, akun @derrynoah kembali mempublikasikan informasi pribadi Francisca di Instagram, menandakan bahwa tindakan intimidasi ini ditujukan khusus kepada dirinya, yang merupakan salah satu penyiar di siniar Bocor Alus Politik.

Keberadaan enam tikus dalam kardus tersebut dianggap simbolis, terkait dengan jumlah penyiar di siniar yang sama, di mana Francisca adalah satu-satunya perempuan. Pada waktu yang bersamaan, ia tengah menyusun laporan utama mengenai revisi UU TNI yang disahkan oleh DPR.

Polisi telah memulai investigasi dengan memeriksa laporan, mengecek rekaman CCTV, serta mengumpulkan barang bukti. Selain itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia juga terlibat dalam penyelidikan teror ini. Bagja, seorang jurnalis, mengutuk tindakan tersebut sebagai pengecut dan tidak bermoral, menegaskan bahwa intimidasi semacam ini tidak dapat dibenarkan.