Ruang Press - Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa semakin banyak orang menerima berita melalui kreator konten, bukan hanya dari organisasi berita tradisional.
Menurut laporan tersebut, 27% dari responden survei di pasar tersebut mengatakan bahwa mereka menonton berita dari kreator konten setidaknya sekali seminggu.
Nic Newman, yang selama bertahun-tahun memimpin Laporan Berita Digital Institut Reuters, mengatakan angka tersebut sangat tinggi di beberapa negara di luar Eropa. Di Thailand, Peru, Maroko, dan Indonesia, sekitar setengah dari responden survei mengatakan mereka secara teratur mengikuti berita dari para kreator konten.
Sebaliknya, di negara-negara Nordik—di mana organisasi berita tradisional masih mempertahankan tingkat kredibilitas yang tinggi dan media sosial kurang umum—tingkat ini jauh lebih rendah.
Menurut Newman, hal ini mencerminkan perbedaan tingkat kepercayaan terhadap media, kebiasaan penggunaan media sosial, dan bagaimana organisasi berita melayani pembaca mereka di setiap negara.
Namun, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa para kreator konten belum sepenuhnya menggantikan jurnalisme tradisional. Ketika ditanya tentang sumber berita utama mereka, hanya sedikit orang yang menyatakan bahwa mereka terutama atau sepenuhnya mengikuti berita dari para kreator konten. Hal ini menunjukkan bahwa jurnalisme tradisional dan para kreator konten masih hidup berdampingan, dan bukan salah satunya menggantikan yang lain.
Laporan ini juga, untuk pertama kalinya, mensurvei bagaimana publik memandang para pembuat konten dibandingkan dengan jurnalisme tradisional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden percaya bahwa pembuat konten lebih menarik, lebih mudah dipahami, dan lebih relevan bagi audiens mereka. Namun, mereka tetap menilai jurnalisme tradisional sebagai lebih dapat dipercaya dan objektif.
Menariknya, hasilnya sangat berbeda di antara kelompok orang yang secara rutin mengikuti para kreator konten. Individu-individu ini memberi peringkat lebih tinggi kepada para kreator di semua kriteria, termasuk kepercayaan dan objektivitas.
Menurut Newman, kepercayaan ini dibangun atas dasar individualitas dan akuntabilitas langsung para kreator terhadap konten yang mereka unggah. Ia berpendapat bahwa banyak audiens merasa lebih mudah mempercayai individu yang mereka kenal baik daripada organisasi besar, di mana sulit untuk mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab atas informasi tersebut.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kebiasaan konsumsi berita kaum muda mengalami perubahan signifikan.
Sebanyak 48% orang berusia 18 hingga 24 tahun mengatakan media sosial dan platform video adalah sumber berita utama mereka. Jika alat kecerdasan buatan (AI) disertakan, angka ini meningkat menjadi 52%. Sementara itu, hanya sekitar 20% anak muda yang mengatakan situs web berita adalah sumber berita utama mereka.
Menurut Newman, tren ini kemungkinan besar tidak akan berbalik seiring bertambahnya usia kaum muda. Ia berpendapat bahwa mayoritas masyarakat semakin menyukai platform yang menawarkan kenyamanan, aksesibilitas, dan kemudahan pemahaman.
Laporan tersebut juga menyoroti tantangan bagi organisasi berita. Banyak media berita masih mengharapkan media sosial untuk mengarahkan pembaca ke situs web atau aplikasi mereka. Namun, menurut Newman, hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan bahwa mengunggah lebih banyak konten di TikTok atau platform serupa akan meningkatkan jumlah pelanggan berbayar.
Sebaliknya, ia berpendapat bahwa organisasi berita perlu berinvestasi lebih banyak pada produk yang dibangun di sekitar individu atau tim produksi tertentu, seperti podcast, video, dan buletin daring, daripada hanya memperlakukannya sebagai saluran tambahan untuk situs web tradisional.