Konflik AS-Israel di Iran Dorong Harga Minyak Naik 20 Dolar AS per Barel
Serangan AS-Israel ke Iran yang membabi-buta mulai 28 Februari 2026, langsung mengguncangkan pasar energi global. Berujung kepada penutupan Selat Hormuz, harga minyak dunia naik 20 dolar AS per barel.
Senior Vice President sekaligus Head of Geopolitical Analysis Rystad Energy, Jorge Leon menjelaskan, penutupan selat Hormuz dan eskalasi konflik di Iran berpotensi langsung berdampak pada harga minyak global.
“Pada awal perdagangan, minyak mentah Brent diperkirakan melonjak 20 dolar AS per barel, seiring meningkatnya premi risiko di pasar,” ujar Leon, dikutip Minggu (1/3/2026).
Dia bilang, Iran membalas serangan AS dan Israel, dengan skala yang jauh lebih besar ketimbang sebelumnya. Bahkan, Iran menargetkan pangkalan militer AS di kawasan dan sekutu teluknya. “Ini menandai potensi perluasan konflik semakin terbuka. Jadi, ini bukan lagi sekadar serangan simbolik,” kata Leon.
Dampak terhadap pasar minyak, kata dia, adalah tertutupnya lalu lintas kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. Sekitar 15 juta barel per hari (bph) minyak mentah, atau setara 30 persen perdagangan minyak di laut global, menjadi macet alias tak bergerak.
Jika gangguan berlanjut, menurut Leon, sekitar 8 hingga 10 juta barel per hari pasokan minyak global berpotensi hilang dari pasar, meski sebagian bisa dialihkan melalui jalur alternatif.
Memang betul, Arab Saudi memiliki jalur pipa East-West menuju Laut Merah yang kapasitasnya 5 juta bph. Atau, Uni Emirat Arab memanfaatkan pipa Abu Dhabi yang berkapasitas 1,5 juta bph. Namun kapasitas sebesar itu belum cukup untuk menggantikan volume minyak yang biasa seliweran di Selat Hormuz.
Masih kata Leon, kenaikan harga minyak acuan global serta kondisi backwardation tajam, diperkirakan bertahan hingga jalur pelayaran kembali dibuka kembali.
Alhasil, negara-negara yang memiliki cadangan minyak strategis (strategic petroleum reserves), berpotensi melepas stok untuk meredam gejolak. Termasuk China dan negara-negara konsumen lainnya. Namun langkah tersebut hanya bersifat penyangga sementara saja.
“Cadangan strategis dirancang untuk meredam guncangan sementara, bukan untuk menutup gangguan struktural berkepanjangan,” ujarnya.
Leon memperkirakan, Selat Hormuz benar-benar ditutup hanya dalam sepekan. Paling lama 2 pekan. Namun demikian tetap saja menimbulkan kemacetan logistik, penumpukan tanker, dan keterlambatan pasokan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Ancang-ancang OPEC+
Untuk mengatasi kondisi, para negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC+ bakal menggelar pertemuan untuk membahas wacana peningkatan produksi. Tujuannya itu tadi, menjaga harga minyak dunia agar tidak menjulang terlalu tinggi.
“Masalahnya yang sebenarnya bukan di kapasitas produksi hulu, namun karena rute ekspor dan jalur pelayaran,” katanya.
Saat ini, kata Leon, Rystad Energy belum terlihat tanda-tanda deeskalasi. Jalur diplomatik mandek, sementara risiko bergeser dari konflik terbatas, menuju potensi gangguan sistemik.
Beberapa indikator krusial yang perlu dipantau ke depan adalah pembukaan kembali jalur diplomasi, respons negara-negara GCC, konfirmasi serangan terhadap infrastruktur energi, serta pola lalu lintas maritim secara real time di Selat Hormuz.




