Komedi Sebagai Senjata Perubahan Sosial di Era Modern
Nationalgeographic.co.id— Tayangan Mens Rea di Netflix sedang menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Pertunjukan stand-up comedy yang dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono itu mengangkat permasalahan sosial dan politik di negeri Indonesia ini dengan balutan humor.
Menurut Etgar Keret, "Humor adalah senjata orang lemah." Demikianlah argumen satiris dan penulis Israel itu dalam The Last Laugh, sebuah film dokumenter tentang humor dan tabu sosial setelah Holocaust.
Formulasinya bukanlah kritik, melainkan penegasan bahwa komedi adalah salah satu dari sedikit senjata yang dimiliki kaum tertindas untuk melawan penindas mereka.
“Kita membuat lelucon tentang atasan kita, kita membuat lelucon tentang kematian. Ketika saya di militer, kami membuat lelucon tentang komandan kami,” kata Keret. “Komandan kami tidak perlu membuat lelucon tentang kami—mereka hanya bisa memerintahkan kami untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan.”
Aktor dan produser Mel Brooks menganut filosofi yang disebutnya “balas dendam melalui ejekan,” yang menargetkan Nazi Jerman dan para penyebar kebencian yang terus diilhaminya jauh setelah kekalahan Hitler.
“Dengan mengolok-olok Nazi, Anda menghilangkan kekuasaan mereka,” kata komedian Susie Essman seperti dikutip dari ZNetwork.
Meski dianggap sebagai senjata orang lemah, komedi sejatinya bisa membantu orang-orang dalam mengubah dunia. Komedi membantu berkontribusi terhadap perubahan sosial jika dilakukan dengan cara yang tepat.
Lauren Feldman, lektor kepala di Rutgers’ School of Communication and Information, mengatakan bahwa komedi dapat memainkan peran penting dalam menantang orang untuk mengatasi isu-isu sosial yang kritis.
Feldman adalah salah satu penulis bersama buku A Comedian and an Activist Walk into a Bar: The Serious Role of Comedy in Social Justice.
Dia mengatakan bahwa gangguan media dan teknologi – dikombinasikan dengan seruan baru untuk keadilan – telah menciptakan kondisi ideal bagi komedi yang berani dan kritis secara sosial untuk tidak hanya berkembang di pasar hiburan, tetapi juga memainkan peran strategis dalam upaya untuk menarik perhatian pada kemiskinan global, perubahan iklim, imigrasi, keadilan rasial, dan pelecehan seksual.
Feldman membahas bagaimana komedi dan acara seperti Last Week Tonight with John Oliver dan Black-ish dapat digunakan dalam pekerjaan advokasi serius untuk menghadapi ketidakadilan.




