Kisah Ramadan Nurmala di Australia: Toleransi dan Kerinduan
RRI.CO.ID, Takengon: Suasana hangat menyapa pendengar Pro 1 RRI Takengon dalam program Kurma (Kisah Unik Ramadan) edisi Jumat, 20 Februari 2026, pukul 12.00 WIB. Mengangkat tema “Ramadan di Negeri Kanguru”, siaran ini menghadirkan diaspora Indonesia yang tengah menempuh studi doktoral di Australia, Nurmala Sari, S.STP., M.Si.
Nurmalasari yang saat ini berada di Brisbane, Australia, menyapa pendengar dengan penuh kerinduan kepada Takengon, kota yang pernah ia tinggali selama kurang lebih tujuh tahun, sejak 2015 hingga 2022. Dosen tetap Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas itu kini sedang menempuh program S3 di The University of Queensland dengan fokus studi Agriculture and Food Sustainability, khususnya bidang tanah dan keberlanjutan pangan.
Memasuki hari kedua Ramadan 1447 Hijriah, Nurmala berbagi cerita tentang perbedaan suasana puasa di Australia dibandingkan dengan Indonesia. Salah satu hal yang paling ia rasakan adalah tidak adanya pasar takjil seperti di Takengon maupun Padang. Jika di Indonesia masyarakat dengan mudah menemukan aneka jajanan berbuka seperti mi kuah, gorengan, hingga sirup dan aneka kue, di Australia ia dan keluarga harus menyiapkan sendiri menu berbuka di rumah.
“Kalau rendang, harus buat sendiri. Ada rumah makan yang menyediakan, tapi rasanya tidak terlalu otentik,” ujarnya sambil tersenyum. Ia juga menyebut, tradisi meugang yang identik dengan Aceh menjelang Ramadan tentu tidak ditemui di sana. Meski demikian, ia dan keluarga tetap berupaya menghadirkan suasana Ramadan dengan membeli daging halal dan memasak bersama, agar anak-anak tetap merasakan nuansa khas menyambut bulan suci.
Dari sisi durasi, puasa di Brisbane berlangsung sekitar 14 hingga 15 jam per hari. Waktu imsak dimulai sekitar pukul 04.00 pagi dan berbuka sekitar pukul 19.00 malam waktu setempat. Meski berada di negara dengan mayoritas nonmuslim, Nurmala merasakan toleransi yang sangat baik. Rekan-rekan nonmuslimnya memahami ibadah puasa dan tidak lagi mengajaknya makan siang selama Ramadan. Bahkan, mereka menunjukkan rasa ingin tahu dan menghargai praktik ibadah yang dijalankan umat Islam.
Untuk pelaksanaan ibadah tarawih, ia menyampaikan bahwa kampus menyediakan ruang ibadah khusus bagi mahasiswa Muslim. Pada malam kedua Ramadan, ia bersama mahasiswa Muslim dari berbagai negara melaksanakan tarawih berjemaah di kampus. Meski tidak ada suasana ramai seperti di Indonesia—tanpa pedagang di sekitar masjid atau anak-anak yang bermain usai tarawih—kebersamaan tetap terasa dalam lingkup komunitas Muslim yang ada.
Menurutnya, hikmah terbesar menjalani Ramadan di negeri minoritas adalah belajar menguatkan diri dan tetap menghidupkan semangat ibadah meski jauh dari keluarga besar dan suasana kampung halaman. Ia mengingatkan masyarakat Indonesia untuk bersyukur karena hidup di negara dengan mayoritas Muslim yang memberikan kemudahan dalam beribadah, mulai dari akses masjid hingga ketersediaan makanan halal.
Di akhir perbincangan, Nurmala menyampaikan salam rindu untuk masyarakat Takengon dan berharap kota tersebut segera pulih dari berbagai tantangan yang dihadapi. Ia juga berharap kelak dapat kembali menjalin silaturahmi secara langsung dengan keluarga dan sahabat di tanah Gayo.
Program Kurma: Kisah Unik Ramadan Pro 1 RRI Takengon akan terus menghadirkan cerita-cerita inspiratif Ramadan dari berbagai daerah dan negara, memperlihatkan bahwa di mana pun berada, umat Islam tetap menjalankan ibadah dengan penuh keimanan dan keteguhan hati.




