Ketegangan Iran-AS Perpanjang Krisis Energi Global, Indonesia Perlu Belajar dari Diplomasi India
Internasional

Ketegangan Iran-AS Perpanjang Krisis Energi Global, Indonesia Perlu Belajar dari Diplomasi India

Ruang Press - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran berisiko memperpanjang krisis energi global dan mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Pengamat Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Faruq Arjuna Hendroy.

Awal Kejadian

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Korps Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz. Iran memperingatkan kapal agar tidak melintasi jalur pelayaran strategis tersebut tanpa persetujuan otoritas Iran. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi ekspor minyak dari negara-negara Teluk.

Perkembangan

Faruq Arjuna Hendroy menilai bahwa gejolak di kawasan Teluk akan terus memberikan tekanan terhadap pasar energi selama konflik antara Iran dan Amerika Serikat belum terselesaikan. Ia menegaskan bahwa mahalnya harga bahan bakar saat ini dipicu oleh konflik tersebut. Tanpa penyelesaian yang permanen, krisis energi dunia tidak akan mereda.

Faruq juga menekankan pentingnya Indonesia untuk mengoptimalkan politik luar negeri bebas aktif, menjalin hubungan seimbang dengan semua pihak yang terlibat dalam konflik, termasuk Iran dan Amerika Serikat, serta negara-negara mitra lainnya.

Kondisi Terakhir

Faruq menilai peluang untuk menyelesaikan konflik dalam waktu dekat masih kecil, mengingat akar permusuhan antara Teheran dan Washington belum teratasi. Ia juga membandingkan diplomasi Indonesia dengan India, yang dianggap lebih luwes dalam menjaga hubungan dengan berbagai negara yang saling berseberangan. Faruq menyarankan agar Indonesia meniru cara India dalam berdiplomasi menghadapi konflik ini.

You can share this post!